Syria, Sebuah Romantisme Sosialisme Arab

syria-lebanon-map1Saya masih ingat betul ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sebuah media cetak mengulas tentang Syria. Syria dengan kota tuanya, Damascus, Aleppo dan lain – lain. Syria yang seakan menjadi suar di antara perpolitikan Timur Tengah yang condong ke arah kebijakan Paman Sam.

Dihuni sekitar 22 juta jiwa, perbedaan gaya hidup begitu menocolok dengan rata – rata negara di sekitarnya. Seperti Arab Saudi atau Yordania sebagai salah satu jiran Syria. Negara – negara seperti Arab Saudi maupun Yordania meski notabene adalah negara – negara dengan sistem pemerintahan monarki akan tetapi pada kenyataannya budaya masyarakatnya lebih dominan individualis.

Bagaimana Syria digambarkan sebagai sebuah negara dengan “mimpi” Sosialisme Arab yang digaungkan di dekade 60’an seakan bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Sebagian besar penduduk Syria bukanlah orang kaya jika dilihat secara per kapita income. Mungkin mirip – mirip dengan Indonesia. Namun yang menjadi perbedaan jika dibandingkan dengan masyarakat di negara – negara di sekitarnya, bagaimana warga Syria rela menyumbangkan uangnya dalam jumlah yang relatif besar jika dibandingkan total pendapatannya sendiri.

Citadel_of_AleppoSebagai negara dengan riwayat dengan jalur sutranya, Syria tentu lebih memiliki warna budaya yang beragam jika dibandingkan dengan negara teluk lainnya. Berbagai pengaruh telah menancapkan sejarahnya di Syria. Hitunglah Romawi, Mongol hingga Dinasti- dinasti Islam telah memberikan warna tersendiri bagi Syria.

Dan Syria juga menjadi sebuah catatan panjang tentang konflik Arab-Israel. Sebuah konflik yang entah kapan akan berakhir.

Syria merupakan sekutu sekaligus pendukung politik utama Hizbullah, selain Iran, sebuah kelompok perlawanan terhadap Israel yang acapkali dituding sebagai biang teror.

Namun kini, seiring Musim Semi Arab (Arab Spring) yang dimulai dengan kejatuhan Presiden Tunisia, Libya bahkan Mesir seakan Syria menjadi negara terakhir yang masih “hidup” dengan mimpi sosialisme arab. Syria kini telah tercabik – cabik dan jatuh ke dalam konflik horizontal antara rezim Ashad dan pihak –pihak yang ingin menjatuhkannya.

Tanpa hendak menuding pelanggaran HAM oleh rezim Ashad yang dituduhkan oleh pegiat HAM seakan sosialisme arab hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh.

Foto: wikipedia

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s