I Love Epresso

i love espresso. itulah tulisan pertama saya. ya saya adalah seorang penikmat kopi. coffee lover. di antara sekian banyak pilihan penyajian kopi, saya memilih kopi espresso sebagai favorit saya. espresso, sebagaimana namanya ia disajikan dengan cepat dan dinikmati dalam kondisi masih panas dan dengan uap yang mengepul di atas cangkirnya.

semua orang penikmat kopi tentu punya alasan mengapa ia menjatuhkan pilihan dalam cara menikmati si hitam ini. ada yang menikmatinya dengan cara yang begitu tradisional, di atas angkringan ditemani semrawutnya ndonya-dunia yang makin ribet dengan berbagai isu global nan njlimet dari masalah politik, keuangan hingga soal-soal global warming. tapi jangan prejudice dulu dengan embel-embel angkringan. karena seringkali yang bertafakur di angkringan tadi bukan hanya golongan kere yang tidak berpendidikan, yang minum kopi hanya untuk sekedar melepas kepenatan kerja seharian mengayuh becak atau sehabis "mburuh" sesiangan di pasar, namun seringkali angkringan menjadi ajang konvensi yang lebih ramai dari konvensi Partai Demokrat atau Republik di negerinya Pakdhe Sam di negeri nun jauh di sana. ada mahasiswa yang begitu semangat berevolusi ketika disingung tentang keadaan carut marut negaranya, ada modin yang berusaha melihat segalanya dari kacamata hitam putih surga neraka, ataupun seorang dosen yang berusaha menjadi Semar, menjadi moral power, memilih jalan tengah di tengah compang-campingnya situasi di negeri ini.

ada juga, mungkin anda salah satunya, yang menikmati kopi dalam secangkir yang berlabel keren, seorang dengan wajah kusut dengan rambut mawut-mawut, di sebuah kafe yang mentereng yang terletak di sebuah mall area bisnis. sembari membicarakan deal-deal  bisnis atau sekedar hang out dengan teman-teman. apapun itu, kopi telah mendekatkan banyak manusia dan menghangatkan berbagai suasana.

mari kita flashback sebentar. kemana?? ke negeri para filsuf. segala sesuatu di dunia pasti mempunyai filosofi. begitu pula dengan kopi. ia juga mempunyai filosofi. dan karena filosofi selalu berkaitan dengan manusia, si hitam ini pun pasti ada kaitannya dengan manusia. mulai sejak ia ditanam, di daerah mana ia dirawat, cara memetiknya hingga pengolahannya menjadi liquid yang siap anda "sruput" di gelas belimbing maupun di sebuah cangkir mewah.

espresso?? kenapa saya memilih espresso??? dan bukannya yang lain seperti latte, machiatto, cappucino atau yang paling ngetren karena banyak diiklakan oleh warung kopi asal Pakdhe Sam, frappuchino??!! atau jika menoleh ke arah konservatif ada tubruk, nggereng atau sejenisnya??

entahlah…(hehehe) saya sendiri juga tidak tahu sampai sekarang mengapa saya memilih espresso. saya hanya membaca dari para coffee adict -bukan lagi coffee lover- yang senang berfilosofi, pilihan dalam menikmati kopi merupakan refleksi dari sebuah kepribadian seseorang. mereka – lagi-lagi para coffee adict yang berfilosofi- memberikan sebuah gambaran, seperti espresso, ia hitam, sederhana karena disajikan dengan cepat hanya dengan sedikit air hingga begitu pekat dan kental, panas – dan jangan coba menikmatinya dalam kondisi dingin, karena jika melakukannya dijamin lidah anda tidak akan menikmatinya. para penikmatnya dikatakan sebagai pribadi yang simpel, menyukai tantangan, cenderung perfeksionis – hingga kadang saya memberi nama espresso, perfectionisto, ambisius – mungkin gambaran dari panasnya.

namun sekali lagi itu hanya pendapat bukannya sebuah firman. tidak ada benar dan salah. dan sebagaimana kopi, boleh diterima boleh tidak. demokratis. sedemokratis cara menikmati kopi, mau nangkring, mau disruput, mau disendoki, mau njengking pun tidak ada yang melarang. yang jelas, kopi telah turut merubah dan mewarnai dunia dengan hitamnya.

lalu, sudahkah anda minum kopi hari ini???