Sebuah Keprihatinan Untuk UNAS

hari ini, dunia pendidikan menjadi sorotan karena sebuah putusan Mahkamah Agung yang melarang dilaksanakannya Ujian Nasional yang sampai saat ini  masih merupakan satu-satunya tolok ukur dalam menentukan kelulusan siswa SD, SMP dan SMU. memang keputusan ini masih menjadi kontroversi karena pihak pemerintah dalam ini Depdiknas berencana untuk melakukan Peninjauan Kembali atau PK atas keputusan MA tersebut. meski demikian, banyak ditayangkan di media massa, para pendidik maupun para siswa yang melakukan sujud syukur atas keputusan ini. mereka beralasan bahwa tidak adil jika pendidikan yang telah mereka tempuh selama tiga tahun hanya, sekali lagi hanya, ditentukan dalam ujian yang tidak lebih dari seminggu. mereka mengaggap bahwa kelulusan sebaiknya ditentukan oleh pihak sekolah.
anggapan itu sah-sah saja di alam demokrasi seperti ini. namun ada baiknya jika kita menelaah filosofi kenapa perlu diadakan ujian akhir. sejak awal, ujian akhir mengalami banyak perubahan. mulai dari EBTA/EBTANAS hingga UNAS sekarang. namun esensi yang terpenting dari ujian itu adalah sebagai standardisasi pendidikan di Indonesia. memang sebagai saringan terakhir untuk menentukan layak tidaknya seorang siswa untuk diluluskan, UNAS memang belum dapat dikatakan sempurna. di sana-sini masih banyak masalah yang membelitnya. seperti kebocoran soal yang hampir tiap tahun ditemui hingga keluhan dari para siswa dan orang tua tentang makin tingginya standar kelulusan. atau jika anda sempat melanglang-buana ke pedalaman nusantara, dimana disparitas tingkat kemajuan informasi denagn kota-kota di Jawa begitu mencolok, jangankan internet, baju sekolah saja masih seadanya. setelah melihat yang demikian apakah UNAS masih urgen untuk dilaksanakan?
tapi lagi-lagi, kita butuh standardisasi! bukannya dihapus tapi diperbaiki. tetap dengan standarnya namun dengan penyesuaian dengan lokal atau malah yang lebih ekstrim lagi, meningkatkan pemerataan pembangunan di daerah terpencil. jadi bukannya standar yang dihapus. karena jika dihapus, maka akan timbul sebuah pertanyaan besar, standar pendidikan kita dilihat darimana lagi?
marilah kita lebih arif dan bijak dalam menyikapi masalah ini. jangan biarkan pendidikan Indonesia makin terpuruk. karena jika pendidikan suatu bangsa ikut terpuruk, yakinlah bangsa itu akan tinggal menuju kehancurannya.
setujukah anda??