(Tak) Sempurna Di Dunia (Tak) Sempurna

beberapa waktu lalu menjelang pemilu, ada sebuah kasus yang begitu menghebohkan dunia medis di indonesia. begitu heboh karena sampai para kandidat capres saat itu saling menunjukkan simpati dan dukungan kepada kasus itu. meski ketika pemilu usai, para kandidat capres yang dulu saling unjuk simpati untuk – wallahu ‘alam- merebut dukungan massa sekarang rasanya komentar mereka tentang kasus itu menghilang di tengah hiruk pikuk berbagai kasus, skandal yang menimpa negeri ini. baiklah…saya tidak tertarik untuk mengomentari soal simpati dan dukungan para capres yang sekarang menghilang entah kemana. saya hanya ingin menulis tentang dunia medis, dunia dimana saya hidup mencari hidup, dunia yang rasanya semua orang setuju untuk berpendapat bahwasanya dunia medis adalah dunia yang sempurna atau setidaknya dunia yang dituntut untuk sempurna. seperti saat saya masih SMU dulu ketika belajar fisika, ketika belajar tentang mesin Carnot, sebuah mesin yang sempurna, sebuah mesin yang berefisiensi sama dengan satu, semua energi yang dihasilkan harus sama dengan energi yang masuk tanpa ada reduksi. namun pertanyaan besar muncul, apakah dunia medis itu dunia mesin sehingga orang-orang yang bekerja di dalamnya adalah sekrup-sekrup yang bekerja begitu sempurna untuk menopang efisiensi mesin yang 100% itu??? atau apakah mereka tetap manusia yang dibatasi dengan sifat-sifat manusiawi yang memungkinkan terjadinya reduksi efisiensi jika tidak boleh dikatakan inefisiensi???

saya menjadi teringat dengan salah seorang guru saya, seorang profesor bedah tatkala beliau dinobatkan menjadi guru besar. saat itu beliau mengomentari tentang pendidikan residen bedah. tentang bagaimana seorang calon dokter bedah harus bertugas jaga selama minimal seratus jam seminggu diluar kegiatan sehari-harinya yang mulai sekitar jam tujuh pagi hingga jam tiga sore kemudian sore dilanjutkan malam untuk visite pasien atau menyiapkan pasien untuk operasi keesokan harinya. yang jika ditotal jenderal, sehari lebih dari dua belas jam berada di rumah sakit. dan semua dituntut untuk bekerja sebaik mungkin, sesempurna mungkin.

atau residen lain yang menangani banyak pasien sehingga keteteran untuk mengerjakan status akibat turn over pasien yang begitu cepat. atau juga ketika bertugas di bagian gawat darurat, pasien menumpuk, beban kerja yang banyak yang menggunung hingga cenderung mengakibatkan salah paham antara dokter dan pasien.

belum lagi ketika masalah peralatan yang ngadat. sehingga pemeriksaan harus ditunda yang berbuntut antrian pasien yang memanjang. dan lagi-lagi mengakibatkan hubungan dokter pasien yang memburuk.

baiklah…baiklah semua hal di atas terdengar seperti sebuah apologi untuk membela diri. mungkin memang sudah saatnya tenaga medis juga membuka diri dan lebih memperhatikan hubungan interpersonal antara pasien dan dokter meski itu hanya berupa sebuah pertanyaan sederhana seperti tentang kegiatan pasien di akhir pekan. selain itu dunia medis yang dituntut untuk memberikan yang terbaik memberikan konsekuensi bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya untuk lebih meningkatkan kompetensi di bidang keilmuan. membaca, workshop, pelatihan, seminar mungkin beberapa hal yang bisa dilakukan. meski tenaga medis dituntut tidak hanya berhenti di situ. belajar lagi, menyesuaikan diri dengan perkembangan baru.

meski di ujung dari segalanya, akan kembali ke sebuah idiom, "tenaga medis juga manusia". lalu??