Bourne van Nusantara

Jason Bourne. sebuah peran apik yang dilakonkan oleh matt damon beberapa waktu lalu. bahkan hingga dibuat menjadi trilogi. begitu hebatnya hingga sinema ini menggondol piala oscar untuk beberapa kategori. namun saya bukanlah kasta yang begitu fasih berbicara soal film hingga rasanya saya akan ngunggah-ngunggahi para empu perfilman jika saya bicara banyak tentang peran si matt damon alias jason bourne ini.

namun ada hal menarik bagi saya adalah bagaimana ketika sejak trilogi yang pertama, si bourne ini yang ditemukan dalam keadaan amnesia, lupa ingatan bahkan untuk mengingat identitasnya sendiri saja, ia susah payah mencari bantuan hingga melintasi berbagai batas negara. masih untung yang dilintasi adalah eropa yang sarana transportasinya gampang. bayangkan jika dia si jason bourne dibuat dalam versi indonesia alias dibikin sinetron yang kira-kira dibintangi cak christian sugiono atau mungkin yang lebih lokal, mas dude herlino, apa ndak bangkrut produsernya?! ditemukan di laut arafuru kemudian dibawa ke merauke terus harus menunggu pesawat perintis ke jayapura hanya untuk sekedar mencari ktp di ambon. setelah itu harus ke pulau sangir. walah saya ndak bisa bayangkan wajah cak christian atau mas dude muter lintang utara dan lintang selatan nusantara ini demi sebuah sinetron striping. tapi untunglah para begawan sinetron indonesia cukup waras dengan tidak membuat versi sinema elektrokniknya.

ada satu sisi yang selalu menggelitik saya adalah bagaimana si mas bourne ini dengan segenap usaha menguak jati dirinya meski di saaat yang sama ia mengalami amnesia serta mendapat halangan dari mantan petingginya yang tidak ingin identitas mas bourne ini terungkap.

sekarang coba sampeyang bayangkan jika si mas bourne tadi adalah bangsa sampeyan ini. bangsa yang kata orang arab sono, adalah bangsa yang diberikan Tuhan keistimewaan, linuwih dalam versi jawa. bangsa ini yang kehilangan identitas, jati dirinya persis seperti mas bourne alami, kemudian berusaha sekuat tenaga menguak identitas dirinya yang terselimut ajian halimun yang dirapal para bandit, menemukan jati dirinya kembali yang didelikkan para cukong, meraih kembali apa yang semestinya dimiliki yang dirampok, ditikusi para komprador korupsi.

namun cara menemukan itu juga harus sama cerdiknya seperti mas bourne lakukan. ndak ngawur. hanya berbekal semboyan, hajar bleh, lantas akhirnya nubruk dan nabrak siapapun yang ditemui. karena jika cara ini yang ditempuh, maka bukan identitas yang dtemukan, tapi 90% saya yakin, sampeyan atau bangsa sampeyan akan babras bundas, ajur mumur, babak belur ditempelengi orang yang sampeyan tabrak dan tubruk.

karena yang harusnya diajar dan bukan dihajar dengan cerdas adalah para bandit, cukong dan para tikus yang ngrikiti bondho, pesugihan sampeyan yang tersimpan di bumi nusantara ini. dan pengajarannya pun harus dengan cerdas. yang dalam terminologi religi yang saya pahami, bil hikmah wal mau’dhotil hasanah, dengan bijaksana dan nasihat yang baik. entoh jika mereka memang perlu ditempeleng, disadhuki maka tempelenglah, sadhukilah mereka dengan cara yang baik, fajadilhum billati hiya ahsan, bantahlah dengan cara yang lebih baik.

karena jika tidak dengan cara yang lebih baik, ada kemungkinan, setelah sampeyan nempelengi dan nyadhuki mereka, ada interest dalam diri sampeyan untuk meniru mereka, menggantikan singgasana mereka dan sampeyan akhirnya tidak ada bedanya dengan bandit, cukong dan tikus itu.

jadi…monggo, kita semua berusaha menemukan identitas bangsa ini bareng-bareng. karena jika yang berusaha hanya seorang, maka rasanya akan muspro, sia-sia dan tak berguna. dan selama kita mencari identitas itu, mari ambil gelas kopi sampeyan dan bareng-bareng kiat nikmati lakonnnya mas matt damon dalam bourne…