Moral Dad, (hope) Moral Generations

tadi pagi saya ke salah satu toko buku di surabaya dan saya sempat melirik yang entah sudah berapa lama buku ini terpajang. mungkin sejak saya masih kuliah yang saya saya melihatanya di toko buku lain. namun buku ini pernah menjadi best seller di jamannya hingga haqqul yakin pemiliknya masih akan memajangnya untuk sekian waktu ke depan. sebuah buku karya econofuturolog –sebuah idiom yang saya buat sendiri untuk menjelaskan betapa aspek yang ditulis oleh Bapak yang satu ini begitu multi dimensional- Robert T. Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad. saya yakin buku ini telah mengubah atau setidaknya mengispirasi hidup banyak orang. karena saat saya berkunjung ke salah satau teman saya, ia dengan bangganya menceritakan pada saya bahwa ia telah menginstall piranti lunak mengenai manajemen keuangan berdasarkan kaidah-kaidah, ketentuan-ketentuan dari si pak robert tadi.

ada penggalan kalimat yang menarik di bawah judul utamanya, “apa yang diajarkan orang tua kaya kepada anaknya yang tidak diajarkan oleh orang tua miskin dan menengah?” dan si pak robert ini begitu simpel dengan pertanyaan yang ia ajukan sendiri menjawabnya, “uang”. kemudian saya menoleh ke lapak di sampingnya, masya Allah, benar juga si pak robert ini, batin saya bergumam. saya saksikan dua, ah bukan tiga atau malah empat lapak yang semuanya memajang tentang bagaimana memanaj uang, tips jitu mencari uang, bagaimana berbisnis tanpa uang tapi menghasilkan uang dan segepok tema-tema yang berkaitan dengan uang. dan bahkan ada yang lebih ironi –bagi saya-, tentang sebuah motivator spiritual quotient yang bagi saya yang ndeso ini harusnya lebih mengarahkan kepada kemampuan spiritual seseorang namun ternyata malah mengarahkan bagaimana caranya kekuatan spiriual tadi untuk mencari uang. jadi hampir lebih dari setengah jam saya plonga-plongo mencari topik di luar uang ternyata saya merasa gelo bin kecewa. saya tidak mendapatkan apa yang saya cari.

sesaat saya berpikir, pantes saja orang nuswantoro, indos nesos  ini pinter jika disuruh cari uang, piti, doi atau apapun sebutannya. bayangkan saja, lha wong mentornya saja sudah sekian banyak. mulai dari mentor londo, ngarab, peranakan sampai produk lokal. semua ada. tergantung anda penganut mazhab apa. belum lagi berbagai topik yang mengungkap seluk beluk bisnis, mulai dari bisnis jemblem hingga bisnis gurita hingga yang paling seru, bisnis abal-abal. gimane kagak jadi orang kaye?!!

tapi lagi-lagi otak saya yang ndeso lan ndableg ini tidak berhenti bertanya, lantas jika benar warga tlatah indonesia ini pinter berbisnis, maka secara logika kan kudu bin harusnya menjadi republik yang kaya, dan bukannya republik demokratik kere yang makan nasi aking di tengah alam yang gemah ripah loh jinawi ini?! lalu kemanakah semua ini?!

oh…ternyata jawabannya tersembunyi di lapak selanjutnya. morality. moralitas, keberadaban. yah…ini dia. sesuatu dalam kotak pandora yang telah lama hilang dari negeri para dewa ini. moralitas mulai para eksekutif nya, baik este –eksekutif tuwek, estewe –eksekutif setengah tuwek, ataupun esmud yang masih kinclong-kinclong, baru lulus dari perguruan tinggi, kemudian para legislatornya, penegak hukumnya dan siapapun yang yang merasa beridentitas indonesia. tidak peduli berjenggot atau klimis, plontos atau berkepang, siapapun. sebuah moral yang harusnya menjadi landasan berpijak dalam menjalani hidup, menyelami aktivitas mungkin sudah tidak lagi menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak di republik ini. namun telah bergeser dan berganti menjadi sinetron yang tampaknya getol menyodorkan bagaimana cara mendapatkan uang however the way is, mulai dari yang paling mistis dengan ternak tuyul dan piara babi ngepet sampai dengan cara yang paling ekstrem, menipu saudara sebangsanya sendiri.

sebuah tanggung jawab untuk menurunkan dan mengembangbiakkan nilai-nilai moral pun rasanya juga sudah mulai terhapus dari jadwal agenda kita yang kita berusaha mati-matian meyakinkan diri kita bahwa kita terlalu sibuk untuk mengurusi nilai-nilai moral. kita pun akhirnya menyerahkan sepenuhnya urusan moral kepada suatu instansi, kelas dalam masyarakat dan kita tak mau peduli untuk memulai nilai-nilai moral itu dari diri kita sendiri. maka jangan heran jika banyak bermunculan fenomena di kalangan artis dan selebritis “guru spiritual”, “penasihat spiritual”, yang rasanya jauh lebih moncer dari si anak didik artisnya.

lalu…petualangan saya di toko buku harus segera saya akhiri karena saya sudah tidak tahan dipendeliki penjaga tokonya, maka segera saja saya saut bukunya Cak Nun…dan sekarang saya masih membacanya…selamat membaca dan memulai hidup di atas moral bangsaku….