Bang Santuri, Bang Santosa, Bang…S

beberapa waktu belakangan ini, saya, sampeyan dan rasanya berjuta pasang mata warga dukuh indonesia ini disuguhi lakon berjudul Bang Santuri. berbeda dengan pakem lakon pewayangan yang akhirnya kita semua sudah mafhum, lakon yang sedang satu ini nampaknya makin hari makin kusut. ruwet, njlimet seperti gaji pegawai negeri golongan IA yang harus menghidupi seorang istri dan tiga orang anak. diitung-itung, ditakar-takar tapi tetep saja nda nyucuk.

namun sama saja dengan semua dengan lakon wayang yang rasanya makin hari makin jarang kita tonton, entah karena biaya pementasannya makin mahal atau orang makin ogah dan malas mendeliki kulit kebo yang ditatah, diwarnai dan digapit sama tanduk kebo dan lebih suka mantengi dalang yang semlohai lagi muter-muter kepingan cakram di atas meja sambil suara musik berdebum-debum serta mengakhiri ritual dengan ndlosor di lantai, lakon bang santuri ini juga menimbulkan gonjang-ganjing, ontran-ontran di dukuh indonesia ini. bahkan pak kepala dukuh yang biasanya mesem, berusaha menunjukkan giginya yang a-gingsul, juga mulai aras-arasen, enggan untuk menunjukkan senyum khasnya. apalagi setelah pak wakil kepala dukuh juga dicecar dalam lakon goro-goro yang diadakan di pentas para kawula yang katanya dipilih oleh rakyat dukuh.

lakon bang santuri ternyata juga menyeret-nyeret banyak pejabat lumbung duid dukuh indonesia, bahkan yang lebih seru lagi sampai menyebut keterlibatan pak wakil dukuh yang saat itu menjabat sebagai gubernur lumbung duid. meski itu hanya terjadi secara klisik-klisik, bisik-bisik saat nongkrong di warung kopi atau yang punya akses kepada teknologi, dengan protes lewat telpon atau via fesbuk.

sebenarnya ini adalah salah satu bukti betapa masih carut marutnya wajah dukuh ini. betapa masih banyaknya masalah yang mesti dan pokoknya harus bisa diselesaikan oleh para pamong dukuh ini. pamong dalam terminologi ini  adalah baik itu kepala dukuh beserta kabinetnya, para pegawai dukuh, wakil kawula serta para penegak hukum. semuanya-mua-mua-mua pokonya semuanya.

nanti, seandainya kasus Bang Santuri ini, saya, mewakili saya sendiri, saya berharap, bermimpi menjadi Bangsantosa, menjadi bangsa yang sentausa, adil makmur. tapi jika nanti akhirnya hanya tambah ruwet dan berakhir dengan cara mblantik idealisme, yah…maka saya telah menyiapkan dada saya buat dielus dan menambah stok sabar di lemari saya, karena bagi saya itu semua Bang Sat