Indonesia Di Tengah Modernitas

beberapa waktu yang lalu pas saya ke toko buku, saya melihat judul buku tentang sebuah topik yang menurut saya menarik. buku itu mencoba “njlentrehi” indonesia dalam perspektif postmodern. sebuah perspektif yang rasanya makin hari makin banyak menghiasi rak-rak di toko buku ataupun menyublim menjadi berbagai esai dan artikel yang muncul di berbagai media baik cetak maupun elektronok, lokal dan tak lupa global via jejaring internet.

namun bukannya saya ingin menggurui, hanya saja, batin saya rasanya perih ketika indonesia dilihat dari paradigma postmodernisme. karena sampai saat ini sebuah pertanyaan saya belum menemukan jawaban. apakah semua teori peradaban – dan secara umum, semua teori baik itu ekonomi, sosiokultural ataupun politik- bisa diterapkan, bisa digebyah untuk sebuah dukuh besar bernama Indonesia ini?

bagaimana bisa teori postmodern bisa diterapkan kepada rakyat dukuh ini wong sebagian –besar- rakyatnya mengenyam, menikmati, ngemplok rasanya modern aja belum pernah. bagaimana rencana-rencana yang berdasarkan teori-teori itu bisa dilaksanakan lha wong enaknya panganan bernama modern saja hanya masih berupa mimpi, khayalan yang sering kali ditunggu dengan menogel?!

dan yang lebih ironis, sebagian masih dalam keadaan pra modern. bahkan mirisnya, pra modern ini tetap dipertahnkan dengan alasan pariwisata yang dibuntel kulit eksotis, eksentrik yang ujung-ujungnya hanya menjadi sebuah komditi yang bisa dijual. industri. komersialisasi.

jadi bagaimana mungkin negara ini sudah memasuki stase pascamodern jika ada sebagian saudara kita –dengan tangan-tangan tak kentara- “ditahan” untuk tetap bertahan dengan koteka?!

saya tidak mengatakan memakai koteka salah atau melanggar nilai dan norma tertentu, tapi menilep duid mereka sehingga mereka tidak bisa beli jas sekelas armani atau gucci sehingga harus puas memaksa badan mereka bertahan dengan koteka, itulah yang mestinya dipersalahkan, dikutuk dan dilaknat. mengembat uang pajak mereka yang mereka kumpulkan dengan susah payah menarik becak agar uang itu kembali ke dalam bentuk pendidikan, kesehatan, sembako murah itu harusnya mereka yang mengembat dihukum seberat-beratnya karena sebenarnya merakalah yang menghalangi bangsa ini berpindah dari pramodern ke modern atau modern ke postmodern.

lantas, bagaimana menurut anda, apakah bangsa ini sudah memasuki teori peradaban tadi? atau masih lebih pantas dibilang peyek teri peradaban yang harganya di warteg makin hari makin tak terjangkau???