Presiden Seratus Malam Dan Budaya Instan

hari ini tepat seratus malam pemerintahan baru di negeri ini. dan seperti sudah diduga sebelumnya, demo banyak mewarnai berbagai media, baik cetak maupun elektronik. isu yang muncul adalah adanya ketidakpuasan rakyat atau sebagian rakyat terhadap sang presiden dalam menjalankan pemerintahan selama seratus hari. sebuah isu utama yang mengemuka adalah program seratus hari sang presiden tentang pemberantasan korupsi. ada satu poin yang rasanya menjadi bahan bakar saat ini adalah sebuah kasus yang pada awalnya adalah sebuah kasus penyelamatan sebuah bank namun  akhirnya menjadi kasus yang ditengarai telah terjadi korupsi dalam proses penyelamatan bank tersebut.

ada satu pertanyaan di benak saya, apakah presiden di republik ini yang katanya merupakan salah satu negara besar demokrasi hanya dipilih untuk seratus hari? yang kemudian di hari ke seratus, ia akan dievaluasi, dinilai kinerjanya, jika nilainya diatas tujuh maka ia masih diizinkan untuk melanjutkan ke semester berikutnya. namun jika ternyata dia tidak lulus maka harus di-drop out dan diadakan pemilihan  umum baru, ganti pemimpin baru yang mau tidak mau harus menghamburkan uang rakyat yang seharusnya uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk sektor pembangunan yang nyata-nyata masih banyak kekurangan dana.

jika memang ternyata rakyat di negeri ini suatu saat andaikata ada yang berani mengajukan petisi untuk dilakukan sebuah referendum yang pada hasilnya menunjukkan bahawa rakyat hanya menghendaki pemerintahan selama satus dino, seratus hari, maka saya pun dengan senag hati akan mengikuti. lantas saya pun akan ikut-ikutan mengusulkan bahwa yang jadi presiden sebaiknya seorang yang mempunyai kemampuan membaca pikiran lebih hebat dari Deddy Corbuzier, kelihaian menghipnotis yang lebih mumpuni dari Rommy Rafael sehingga semua mengikuti azas, kesaktian yang lebih ciamik dari Limbad sehingga mampu menghadapi lindasan krisis. dan satu orang yang terbersit di benak saya, Aladin. yah…aladin dengan lampu ajaibnya mungkin jawaban yang kita cari selama ini. jawaban dari kegelisahan kita selama ini. jawaban yang kita harapkan dari enam presiden yang kita pilih yang nyata-nyata jawaban mereka cuma mentok di atas kertas belaka.

walah…ternyata itu semua hanya mimpi saya dan sampeyan semua. mimpi kita semua yang kangen dengan perubahan yang benar-benar perubahan di negeri ini dan bukannya perubahan yang hanya sekedar berubah di kulitnya. mimpi tentang seribu malam yang akhirnya kita pendekkan, kita reduksi menjadi seratus malam karena rasanya terlalu lama jika harus menunggu seribu malam lagi untuk menyaksikan adanya perubahan. meski kita sadar, bahwa itu makin menambah ketidakmasukakalan mimpi itu dengan menjadikannya sesuatu yang serba instan dalam seratus malam. namun bukankah dalam keadaan kepepet, instan juga tidak buruk? mi instan memang jika terlalu sering tidak baik untuk kesehatan. namun siapa yang bisa membantah jika di malam hari perut terasa keroncongan, mi instan adalah sebuh pilihan yang sulit ditolak. meski esok pagi bersiaplah untuk sembelit karena kurang serat yang nyatanya orisinil dan baik buat kesehatan meski untuk itu malam-malam kita harus cari sana-sini jika ingin memaksa memasaknya.

jadi pilihan sampeyan yang mana? sesekali ikut meng-instan atau berusaha menunggu hingga seribu malam. terserah sampeyan. wong itu urip sampeyan….