Korupsi Lagi…Lagi-lagi Korupsi

korupsi lagi…hari ini sebuah kabar yang tidak lagi mengejutkan menghiasi berbagai media. seorang mantan menteri diperiksa oleh lembaga anti korupsi. lucunya sang menteri ini baru saja menjadi menteri di periode sebelumnya. namun menjadi ironi tatkala sang mantan menteri ini, yang tengah menjalani pemeriksaan, berasal dari sebuah partai yang bahkan logo partainya adalah sebuah lambang dari sebuah agama besar di negeri ini.

dan yang lebih mengherankan, ia juga menjabat semacam ketua di partainya yang bertugas memberikan pertimbangan kepada sang ketua umum. betapa sangat kontradiktif dengan apa yang dituduhkan kepadanya bukan?!

publik seakan kembali mempertanyakan eksistensi moral dari berbagai lembaga di negeri ini. eksekutif, legislatif pun aparat yudikatif yang seharusnya menjadi tameng keadilan kembali dipertanyakan komitmennya dalam mengurus jalannya pemerintahan. dan diujungnya, eksistensi sebuah kepercayaan kepada tuhan yang jelas-jelas menjadi syarat ketika menjadi pejabat, beriman dan takwa kepada tuhan, mau tidak mau juga harus dipertanyakan.

bagaimana tidak, sebagai mesin politik, partai yang nyata-nyata bahkan berideologi agama, menampakkan simbol-simbol keagamaan tertentu ternyata tidak sanggup menampakkan eksistensi, menunjukkan taringnya ketika berhadapan dengan  korupsi. seakan simbol-simbol tadi mengalami disfungsi, impotensi dan mati kutu ketika harus berenang melawan arus korupsi.

syahwat korupsi ternyata sanggup menghapus idealisme yang begitu menggebu ketika sedang berorasi saat musim kampanye.

namun sekali lagi, publik tidak lagi terhenyak manakala berita itu muncul di berbagai media. bahkan rasanya rakyat juga sudah mafhum dengan berbagai tingkah polah pejabat di republik ini. jadi andaikata benar bahwa kasus korupsi itu benar terjadi, maka rasanya kasus itu hanya akan sekedar menambah panjang deretan kasus korupsi di negeri ini. tidak lebih.

dan makin membenarkan idiom bahwa di negeri ini untuk bisa lahir pun harus korupsi terlebih dulu dan setelah mati pun, ahli warisnya harus korupsi terlebih dulu untuk memakamkan. tak ada hari tanpa korupsi, tak ada waktu tanpa korupsi. korupsi lagi dan lagi-lagi korupsi.