Pencitraan Dan Negeri Atas Angin

pencitraan, seberapa besar sebuah citra mempengaruhi hidup anda? seberapa kesan yang anda sampaikan kepada publik dan respon publik tentang apa yang anda sampaikan tadi memiliki peran dalam karakter anda?

jika sebuah citra adalah hal terpenting dalam hidup anda, jika persepsi publik adalah menempati prioritas paling atas dalam keseharian anda, maka rasanya anda layak untuk menjadi pemimpin di indonesia. tak peduli apakah itu pemimpin formal, semi formal ataukah non formal. tak peduli juga apakah itu menjadi presiden, anggota dewan, ketua sebuah organisasi keagaamaan, yang penting bisa disebut pemimpin, punya massa untuk dipimpin maka anda bisa mencalonkan diri anda di sana.

karena nampaknya hingga sekarang, pemimpin atau yang merasa memimpin, hanya menonjolkan citra dan kesan, tanpa peduli apakah ia telah bekerja, menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan harapan masyarakat. apatis dengan keinginan masyarakat. dan hanya menampilkan sebuah seremonial belaka. pokoknya kelihatan bekerja.

dan rasanya itulah sekarang menimpa para pemimpin indonesia sekarang ini.

ketika presiden bersama kabinetnya melewati seratus hari masa kepemimpinannya yang kedua, ramai-ramai para menteri mengumumkan kepada publik tentang pencapaian dalam seratus hari pertama masa kerja mereka, mencoba  menampilkan bahwa seakan-akan mereka telah melakukan yang terbaik. ada yang menyatakan bahwa departemen yang dipimpinnya mendapatkan nilai biru. ada yang juga menteri yang menyatakan bahwa kementeriannnya mendapatkan nilai hijau. memang sah-sah saja memberikan penilaian. tapi apa ya bakal objektif ketika yang menilai adalah diri sendiri? apa tidak malah kontras dengan kenyataan?

ataukah memang penilaian sepihak itu hanya untuk  memberikan – lagi-lagi- kesan kepada masyarakat ini bahwa mereka telah bekerja dengan sungguh-sungguh jadi rakyat tidak perlu protes dan hanya cukup diam selama lima tahun kemudian? bahwa msayarakat dianggap masih tertidur sehingga tidak bisa melihat kenyataan yang ada?

dan yang lebih mencengangkan lagi, seorang tokoh organisasi keagamaan hanya berpesan untuk memperbaiki kesan pemerintahan yang terus menerus turun ini.

apakah negara ini benar-benar hanya berisi kesan, citra ataukah memang sebenarnya kita pun hidup hanya di alam persepsi kita sendiri tanpa pernah menjadi nyata? persepsi tentang sebuah negara yang bisa menyejahterakan rakyatnya, memberikan perlindungan dan berlaku adil.

atau jangan-jangan kita memang benar-benar hidup dalam angan-angan? dan dalam angan-angan tadi kita bermimpi kita bermimpi kita mempunyai negeri di awan, negeri atas angin? ah…jika benar, betapa apesnya rakyat negeri ini.