Koin Cinta, Pemerintah Lemah Di Sektor Kesehatan

koin untuk bilqis

Belakangan ini marak adanya fenomena baru di masyarakat. penggalangan koin untuk menyumbang terhadap sesama. yang paling santer mungkin adalah koin peduli dalam kasus prita yang tersandung kasus dengan salah satu rumah sakit swasta dan yang terakhir adalah koin cinta untuk balita bernama bilqis yang menderita atresia bilier sehingga mengakibatkan liver nya membesar.

kita mungkin bisa sedikit berbangga hati dengan fenomena ini karena fenomena ini masih menunjukkan bahwa sebenarnya bangsa ini belum kehilangan 100% rasa sosialnya. namun kita juga perlu mencermati lebih dalam. dari semua fenomena pengumpulan koin tadi semuanya terkait dengan masalah kesehatan di republik ini. lalu muncul pertanyaan, ada apa gerangan dengan kebijakan pemerintah di bidang kesehatan hingga mengharuskan masyarakat mengumpulkan sendiri recehan untuk membiayai kesehatannya? apakah kebijakan yang diterapakan pemerintah belum menyentuh lapisan paling bawah dari rakyat yang dalam konstitusi diamanatkan untuk dilindungi seluruh tumpah darahnya?

Kebijakan itu hanya di atas bukan di bawah

sebagai tenaga medis yang pernah ditempatkan di daerah pelosok, saya mencermati banyaknya ketidaksesuaian antara kebijakan di tingkat para pengambil keputusan dengan implementasi di lapangan. mungkin di tingkat peraturan, kebijakan itu nampak begitu ideal untuk diterapkan namun begitu sampai ke lapangan, ternyata pelaksanaanya tak sebagus sesuai dengan harapan. banyak hal-hal yang membuatnya menyimpang dari peraturan sebenarnya. banyak faktor yang membuatnya tidak lagi seideal sesuai peraturan yang ada. seperti program jamkesmas misalnya yang didengung-dengungkan pemerintah. mungkin di tingkat atas mungkin ia nampak bagus dan ideal namun begitu sampai ke lapangan banyak hal yang membuatnya menyimpang. faktor sanak famili, SARA pun tak urung menjadi beberapa faktor yang berkontribusi dalam penyimpangan tersebut. keluarga yang harusnya tidak berhak mendapatkan kartu jamkesmas namun karena dia adalah keluarga dari oknum pemerintahan maka ia mendapatkan kartu jamkesmas. begitu pula kadang pembagiannya tidak merata yang dimulai ketika saat disurvei. hanya karena agama minoritas di satu wilayah maka meski memenuhi kriteria untuk mendapatkan jamkesmas maka ia tidak mendapatkannya. dan masih banyak lagi faktor yang menyumbang dalam penyelewengan kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.

Korupsi masih di mana-mana

faktor yang rasanya sudah jamak menggerogoti negeri ini. bahkan beberapa waktu lalu seorang mantan mantan menteri kesehatan diperiksa KPK karena dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan untuk wilayah Indonesia bagian timur. kemudian tak lama, seorang kepala dinas kesehatan di kalimantan juga diperiksa karena ditengarai melakukan praktek korupsi.

rasanya jika ditelisik hingga ke tingkat penentu keputusan paling bawah, akar korupsi pun akan sampai di sana. bayangkan seandainya dana yang dikorupsi di bidang kesehatan digunakan untuk kasus seperti bilqis, mungkin orang tuanya tak perlu mengadakan penggalangan dana melalui koin cinta untuk bilqis. dan rasanya dana yang dikorupsi tadi masih bisa untuk menolong bilqis-bilqis lain yang saya yakin masih banyak di negeri ini.

Saatnya kita bertindak

melihat segala persoalan yang membelit masalah kesehatan di negeri ini, tak ada kata lain bagi masyarakat selain bertindak. dalam hal ini ikut serta mengawasi implementasi kebijakan yang telah diambil. mengawasi jika terjadi penyelewengan di lapangan. sekaligus tetap mengedepankan hukum meski kita tahu bahwa hukum di negeri ini dengan mudahnya bisa diperjualbelikan. namun jika kita bereaksi yang berlebihan sehingga anarkis maka hal itu tidak akan memperbaiki namun malah memperkeruh keadaan.

dengan demikian kedepannya, tidak ada lagi fenomena koin peduli. karena kebijakan kesehatan pemerintah lebih berpihak kepada masyarakat yang selama ini nampaknya lebih banyak berpihak kepada para pejabat.

sumber foto:vivanews.com

4 thoughts on “Koin Cinta, Pemerintah Lemah Di Sektor Kesehatan

  1. pongsapan

    Emang benar Korupsi dinegeri yang kita cintai ini membuat rakyat kecil semakin menderita. Sebagai warga negar, saya juga prihatin. Setahu saya pada departemen khususnya ada istilah dana tak terduga, yang penggunaannnya untuk kasus-kasus yang sifatnya post majeure termasuk kasus Bilgis.
    Menurut saya, untuk saat ini kebutuhan pokok rakyat kecil hanya 3 yaitu : tempat tinggal, makan, dan gratis sekolah dan berobat. Kalau itu sudah dipenuhi pemerintah, saya yakin Republik yang kita cintai ini pasti aman dan damai,..

    1. iloveespresso Penulis Tulisan

      Ah mas kayak ndak tahu saja. Dana tak terduga yang mas sebut atau dalam anggaran disebut dana taktis biasanya habis buat ngelencer mas. Hehe..kalo masih ga habis di akhir anggaran, maka dibagi-bagi buat THR. hihihi…
      tapi pemerintah yang ngurusi sandang pangan mas ternyata lebih peduli pada pidana nikah siri loh mas??? nah gimana menurut mas sendiri?

  2. pongsapan

    Emang benar juga sih, tapi saya yakin masih ada juga oknum orang-orang pemerintah yang peduli terhadap sesamanya yang menderita, persoalannya orang-orang seperti ini justru disingkirkan. Dalam kondisi demikian, tinggal satu yang dapat kita lakukan, yaitu ” Berdoa dan Berusaha ” sesuai talenta kita masing, pasti ” bahagia “

    1. iloveespresso Penulis Tulisan

      wah kalo soal apakah masih ada orang yang berdedikasi kepada masyarakat di tengah sistem yang korup, saya tetap percaya. kalo enggak, bisa gila mungkin menghadapi pergulatan hidup di indonesia mas.
      yap, berdoa dan berusaha dengan cara yang kita bisa. bahkan jika itu hanya sebuah sebuah postingan di twitter yang berbunyi, “lawan korupsi”. itu tetap dinilai sama dengan yang berusaha dengan jujur mengungkap kasus korupsi di negeri ini.🙂
      tetap bahagia mas!!!

Komentar ditutup.