Tragedi Marsha Saphira: pelajaran “melek” berinternet

Saya membaca di tempointeraktif.com di segmen teknologi. Sebenarnya saya hanya iseng menelusuri situs tersebut karena penasaran dengan polemik seputar RPM konten multimedia yang muncul beberapa hari ini. Namun alangkah terperanjatnya saya ketika di sebuah link ada kasus tentang Marsha Saphira yang kisahnya hangat di tweeter.

Mengutip dari situs interaktif.com, si Marsha Saphira entah menggunakan identitas sesungguhnya atau tidak, menjadi topik pembicaraan yang hangat dalam situs jejaring sosial Twitter akibat akibat statusnya yang dinilai telah melecahkan institusi pendidikan negeri. Meski polemik tadi semula hanya berawal dari ejekan Marsha pada seorang pemilik akun, akhirnya hal ini berkembang menjadi sebuah postingan yang dianggap telah melecehkan institusi pendidikan terutama institusi negeri. Menurut tempointeraktif.com, Marsha ini yang mengaku bersekolah di salah satu SMA swasta di daerah Pondok Indah, telah memposting kalimat-kalimat yang bernada provokatif dan berkesan merendahkan.

Tentu saja hal ini mengingatkan saya tentang polemik seputar RPM konten media. Saya bukan termasuk yang pro atau kontra dengan RPM ini. Saya hanya bisa mengelus dada ketika menyaksikan fenomena Marsha ini. Bukankan ini justru menjadi alasan pembenar bagi pihak-pihak yang setuju dengan RPM? Okelah, kasus Marsha ini hanyalah case by case dan bukan merupakan represntasi dari seluruh pengguna internet di Indonesia. Namun jika kita menyimak lebih dalam, kita yang bukan ahli dalam telematika dan hanya bisa berkomentar, ini tentunya merupakan pembelajaran besar bahwa tidak semuanya yang menggunakan internet di negeri ini bisa menggunakannya dengan etika dan kesantunan. Dan untuk itu, lagi-lagi, sebagai rakyat kecil yang awam kita hanya bisa mengelus dada. Karena itu, saya setuju dengan pendapat Enda Nasution dari komunitas blogger, bahwa mungkin regulasi konten media ini harusnya tidak lagi dalam tingkatan menteri melainkan hingga ke tingkat wakil rakyat yang produknya berupa undang-undang dan diharapkan mempunyai legitimasi yang lebih kuat daripada jika dibandingkan jika hanya peraturan yang dibuat oleh menteri.

Ironi karena di satu sisi kita menuntut generasi muda untuk lebih beretika namun yang lebih senior tidak berbagi ilmu, jarang nyambangi adik-adiknya di meski hanya untuk sekedar sharing internet yang sehat

Di lain pihak, kemenkominfo harusnya juga memberikan solusi bagaimana berinternet yang lebih baik, santun dan beretika dalam menggunakan jejaring sosial. Malah bukan jadi sekedar tukang gunting seperti perannya di orde baru.

Sesama pengguna internet, saya rasa juga bisa saling berbagi tentang etika dalam berinternet. Terutama dari para senior kepada para remaja. Karena saya melihat sosialisasi tentang internet sehat ini nyaris tidak pernah menyentuh lapisan muda. Okelah, jika itu dianggap terlalu mendramtisir. Namun saya ingin memberi contoh, ketika saya ke toko buku saya menemui banyak buku yang bertopik bagaimana cara membuat akun facebook, tweeter. Tapi sayangnya, topik yang membahas etika dalam berinternet jarang bahkan nyaris tidak ada. Ini kan menjadi ironi. Ironi karena di satu sisi kita menuntut generasi muda untuk lebih beretika namun yang lebih senior tidak berbagi ilmu, jarang nyambangi adik-adiknya di meski hanya untuk sekedar sharing internet yang sehat.

Nah, sekali lagi, kasus Marsha menjadi tamparan bagi kita pengguna internet bahwa ternyata masih ada saudara-saudara kita yang belum melek dengan internet yang sehat. Apakah akan kita biarkan ini berlanjut?? Tidak bukan. Mari kita budayakan internet yang sehat. Tetap junjung demokrasi, kebebasan berekspresi tanpa melupakan norma dan etika.

Sumber foto:wahyuandika.ngeblogs.com

4 thoughts on “Tragedi Marsha Saphira: pelajaran “melek” berinternet

Komentar ditutup.