Dikhotomi Pendidikan Swasta-Negeri

Jika anda pernah mengalami masa sekolah di era 80an atau 90an, saya yakin anda pernah mendengar petuah seperti ini “Nak, nanti kalau sekolah jangan di sekolah swasta ya?! Selain mahal, kualitasnya juga kalah dengan sekolah negeri”.

Namun jika anda bersekolah di era reformasi mungkin nasihat seperti itu jarang atau bahkan mungkin tidak pernah anda dengar. Karena setelah tumbangnya orde baru dan menjadi orde reformasi maka pertumbuhan pendidikan swasta berkembang dengan pesat.

Meski pertumbuhan itu selamanya tidak merata sama seperti ketika orde baru masih jaya. Sektor pendidikan swasta terutama di luar Jawa pun masih perlu banyak berbenah menyusul ketertinggalannya.

Namun perlu dicatat  sesuatu yang menarik terutama di Jawa yang kita tahu merupakan barometer pendidikan nasional, bahwasanya muncul sejumlah pergeseran paradigma berpikir orang tua yang tidak ragu lagi untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Salah satu indikator yang paling menonjol mungkin adalah banyak bermunculannya institusi pendidikan swasta.

Institusi tadi tidak kualitasnya dibanding dengan institusi pendidikan negeri. Bahkan acapkali mengadaptasi kurikulum pendidikan luar negeri yang mungkin dianggap lebih baik jika dengan kurikulum murni yang diterapkan dari Departemen Pendidikan.

Sebagaimana mekanisme pasar, tentu saja institusi swasta tadi, makin bagus kualitas pengajarannya maka makin mahal juga ongkos yang harus dikeluarkan. Yang tentu saja hanya segolongan dari masyarakat dari negeri ini yang bisa menjangkaunya.

Saya tidak ingin menggugat hukum pasar tadi. Melainkan saya hanya ingin menyoroti efek segregasi yang muncul akibat adanya perbedaan soal “kasta” pendidikan yang mahal dan murah tadi.

Beberapa hari yang lalu komunitas Twitter dihebokan dengan seorang pelajar SMA yang mem-posting di akun Twiiternya yang mungkin bagi sebagian pihak dianggap melecehkan pendidikan negeri. Meski saya pribadi menilai posting-an tadi hanya wujud ekpresi darah muda dari pemiliknya. Inti dari posting-an tadi adalah bahwa lawan bicara si pelajar tadi tidak bisa sekolah ditempat si pelajar karena ke-“elit”-an sekolah si pelajar yang akhirnya menuai cercaan dari pengguna Twitter lainnya.

Kembali kepada topik permasalahan, kembali kepada judul artikel, ternyata segregasi dunia pendidikan di negeri ini masih ada. Meski bukan lagi dengan terminologi yang sama, bahwa institusi negeri lebih baik kualitasnya lebih baik dan sederet embel-embel lainnya melainkan dikhotomi itu muncul sebagai akibat makin mahalnya ongkos yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan.

Sekolah yang “keren”, fasilitas yang ciamik yang tentu mungkin hanya jadi mimpi bagi sebagian besar rakyat di negeri ini.

Pendidikan harus menjadi jembatan sosial kultural

Sebagaimana ide awal pendidikan yang hendak mencerahkan tentunya menjadi kontra produktif jika akhirnya sekolah sebagai institusi pendidikan malah menyebabkan segregasi dalam masyarakat.

Sekolah pada hakikatnya merupakan salah satu pilar pembangunan peradaban. Yang andaikata jika tidak dikelola dengan benar, ke depannya hanya akan menimbulkan perpecahan bagi bangsa ini. Hanya karena slogan bahwa “sekolah gue lebih keren dari sekolah elu yang kere” apakah bangsa ini akan dibawa ke tubir kehancuran? Saya rasa benar-benar menjadi kerugian yang nyata jika hal itu sampai terjadi.

Di sinilah letak pentingnya peran pendidik dan orang tua dalam pengembangan kepribadian pelajar.

Penyadaran kepada pelajar bahwa institusi bukanlah tujuan dari pendidikan itu sendiri melainkan hanya sebuah sarana. Sebuah anak tangga dari sekian banyak tangga untuk membangun peradaban dari suatu bangsa.

Andil pemerintah juga tak kalah besarnya. Pemerintah dituntut untuk bisa memenuhi kualitas sarana dan prasarana pendidikan termasuk gaji pengajar di dalamnya. Dan bukannya sekedar menaikkan standar kelulusan tanpa dibarengi dengan langkah nyata peningkatan pembangunan fisik sekolah misalnya.

Di akhir artikel ini, saya ingin mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, tanggung jawab komunal dan bukan tanggung jawab individual. Dan tujuan akhir pendidikan bukanlah dikhotomi apakah sekolah anda negeri atau swasta melainkan seberapa besar sumbangsih anda bagi kemajuan bangsa ini.

Selamat bersekolah lagi…

sumber foto: beritajakarta.com

2 thoughts on “Dikhotomi Pendidikan Swasta-Negeri

Komentar ditutup.