Godot Perubahan

Tadi siang saya iseng membaca sebuah artikel yang dimuat di salah satu situs berita online. Artikel itu mengetengahkan tentang pementasan  teater Godot karya Samuel Becket. Sang penulis menceritakan dialog tentang dua orang yang menunggu Godot. Seperti kita tahu karya Samuel Becket ini mengisahkan tentang seseorang, kelompok atau masyarakat yang menunggu, menanti kedatangan Godot.

Meski sebenarnya mereka mengetahui Godot yang mereka tunggu kabar kedatangannya hanyalah sebuah kabar kabur. Meski mereka berasal dari latar belakang berbeda namun menunggu sesuatu yang mereka sadar entah kapan datanganya menajdikan sebuah konsensus di antara mereka untuk bertahan.

Mungkin jika direfleksikan ke ranah politik negeri, diejawantahkan dalam atmosfer ambiguitas yang tengah terjadi di negeri ini rasanya lakon Godot ini kiranya mendekati kebenarannya.

Seluruh lapisan masyarakat, entah darimana datangnya, seakan ber-ittifaq tentang perlunya sebuah perubahan. Meski perubahan yang mereka tunggu, harapan yang mereka impikan telah berjalan lebih dari setengah abad sejak diproklamirkannya kemerdekaan negeri ini oleh Sukarno dan Hatta.

Namun rezim orde lama pun berganti menjadi rezim orde baru. Harapan mengenai perubahan yang seakan nyaris hilang dalam gegap gempita revolusi yang digaungkan orde lama kembali bangkit.

Tiga puluh dua tahun berlalu. Harapan itu pun akhirnya kembang kempis juga meski sama seperti orde sebelumnya, begitu gegap gempita di awal. Orde ini pun akhirnya tumbang dengan sebuah harapan baru.

Dan kita semua masih menunggu Godot itu hingga hari ini…malangnya…

Namun kini setelah sekitar satu dekade orde reformasi itu berjalan, nampanya perubahan yang dijanjikan masih saja kabur. Makin kabur tetapi penguasa yang silih berganti masih saja menjajikan akan kedatangan sang perubahan.

Godot silih berganti. Makin ke depan sang Godot makin kabur. Makin tidak jelas. Hingga yang menunggu Godot pun akhirnya kebingungan dan bertanya “apakah Godot itu benar-benar nyata ataukah hanya sekedar imajinasi yang terpaksa dibuat untuk melepaskan diri dari kenyataan hidup yang mencekik? Semacam eskapis batin yang makin lama makin mencandu? Sampai pada ujungnya tidak bisa tidak harus menunggu Godot karena tidak ada pilihan lain”.

Oknum-oknum yang dulu begitu optimis dengan kedatangan Godot pun akhirnya menyerah manakala Godot itu tak kunjung datang. Akan tetapi sebagian mereka yang meneriakkan harapan akan kedatangan Godot tapi akhirnya sadar bahwa Godot itu tak mungkin datang akhirnya menjadi begitu kejam dengan menipu massa dengan menjajikan kedatangan Godot bahwa jika ia terpilih dalam pemilihan umum maka ia akan membawa Godot dalam realitas.

Demikianlah realitas Godot yang terjadi di negeri ini. Godot menyatukan harapan meski harapan itu pada kenyataanny tak pernah ada. Godot pula yang akhirnya menumbangkan berbagai rezim silih berganti. Semua saling mengklaim sanggup menghadirkan sang Godot.

Dan kita semua masih menunggu Godot itu hingga hari ini…malangnya…

Sumber foto: http://www.samuel-beckett.net