Terorisme: Ideologi Tak Mati

Tanggal 9 Maret kemarin seakan Polri seakan mendapat hadiah besar. Sang buron yang kepalanya dihargai Rp. 100 Miliar rupiah oleh negara Paman Sam, Dul Matin alias Joko Pitono tertembak mati. Presiden mengumumkan keberhasilan menembak mati sang teroris lebih dulu dalam sebuah pidatonya di depan parlemen Australia yang kemudian disusul pengumuman oleh Kapolri di depan media cetak dan elektronik di Jakarta.

Banyak pihak memberikan apresiasi serta acungan topi kepada Polri atas kerja dan keberhasilannya mengungkap sebagian kasus teroris di Indonesia.

Di sejumlah media televisi pun muncul iklan layanan masyarakat yang mengajak masyarakat untuk waspada mengenai lingkungan mereka dari bahaya terorisme. Entah kenapa iklan seperti ini muncul lagi di saat penembakan gembong teroris menjadi berita utama. Mungkin untuk menegaskan pesan agar setiap warga masyarakat hati-hati dengan para pendatang di lingkungan mereka. Apalagi pendatang yang terkesan misterius, tertutup dan mencurigakan.

Kenapa saya menggunakan frasa sebagian kasus teroris di Indonesia, dalam pandangan saya, terorisme bukanlah sebuah hal yang baru.

Teror adalah sebuah ideologi. Dan sama seperti ideologi yang lain, ia tidak bekerja sendiri, terlepas dari satu kejadian dengan kejadian yang lain. Ia terkait satu sama lain. Ia mempunyai landasan hidup, butuh alasan untuk hidup dan habitat yang tepat untuk bisa survive.

Dalam sejarah, teror selalu muncul dalam berbagai bentuk. Nero pada zaman Romawi, kemudian di Perancis dalam bentuk pemerintahan Robespierre berlanjut dengan Hitler dan Nazi-nya, Pol pot dengan rezim Khmer Merahnya hingga berbentuk kekerasan sektarian seperti di Irlandia Utara, Tamil di Srilanka dan banyak bentuknya di seluruh dunia.

Jika kita merunut ke akar sejarah tadi, maka akan nampak jelas bahwa akar dari teror tadi adalah ideologi kekerasan. Maka seperti ideologi lainnya, ia punya alasan untuk tumbuh dan berkembang.

Marx dan Engel membangun ideologi Marxian-nya atas dasar dialektika materialis, Adam Smith sebagai bapak ideologi Kapitalis atas dasar kebebasan individu dalam segala hal lantas ideologi teror pun juga mempunyai alasan dan dasar mengapa ia harus tumbuh.

Teror lahir sebagai penolakan atas ideologi lain yang lebih dulu muncul akan tetapi dianggap tidak sanggup memecahkan  segala probelematika yang ada. Atau gampangnya tidak cespleng bin  tokcer. Masalah seperti ekonomi, sosial hingga masalah yang bersifat religius akhirnya seakan menjadi pupuk bagi tumbuhnya ideologi yang bersifat kekerasan sektarian.

Kembali ke penanganan kasus terorisme di Indonesia, penangkapan kemudian lantas menjebloskan pengikut atau malah menembak mati para gembong kelompok yang dianggap teroris tentu bukan solusi jangka panjang bagi pemberantasan terorisme.

“Mati satu tumbuh beribu” mungkin tepat untuk menggambarkan betapa pendekatan kekerasan hanya akan menambah militansi bagi pihak-pihak yang dianggap terorisme. Tembak mati dan penjara alih-alih membuat jera akan tetapi malah menjadi justifikasi kebenaran dalil yang mereka anut.

Paham teror atau terorisme tetaplah harus dipandang sebagai akibat dari sebuah ideologi dan bukan dipandang sebagai sebuah kejahatan pidana biasa. Mungkin jika untuk tindak pidana umum, adagium “menghukum pencuri kuda agar tidak ada lagi kuda yang dicuri” bisa diterapkan. Tetapi untuk kasus seperti terorisme mungkin pendekatan yang lain perlu ditempuh.

Kata-kata petinggi Partai Komunis Indonesia ketika akan dihukum mati yang menyatakan bahwa PKI sebagai partai mungkin bisa mati namun Komunis sebagai ideologi tidak akan bisa mati patut direnungkan.

Ideologi selamanya  tidak akan mati. Bagaimanapun usaha untuk menghapusnya dari sejarah manusia, sekeras itu pula lah ideologi akan bertahan. Ideologi bukanlah cacar yang dengan vaksin sekian tahun akan sanggup dibasmi dari muka bumi.

Jadi sudah saatnya pola pendekatan dalam penanganan terorisme berubah bukan hanya sekedar pendekatan legal formal melainkan lebih ke arah pendekatan yang humanistik. Pendekatan yang nguwongke. Dengan demikian, diharapkan iklim yang menyuburkan paham teror terreduksi atau malah tereliminasi. Tapi jka yang terjadi sebaliknya, yang digunakan adalah pendekatan legal formal, rasanya pendekatan seperti itu hanya akan melestarikan lingkaran kebencian. Sudah saatnya kita memulai dengan cakrawala pandang yang baru mengenai lingkungan kita.

Mari kita perangi teroris dan bukan tetangga kita…

Sumber foto: www2.hci.edu.sg