Dokter Dan Budaya

Seringkali  kita merasa miris dengan berita yang menyebutkan pasien miskin tidak bisa tertangani akibat ketidaktersediaan biaya. Kasus bayi yang mengalami hidrocephalus namun mengalami penolakan oleh rumah sakit rujukan pemerintah di Jakarta semakin menunjukkan betapa sistem kesehatan di Indonesia seakan tidak lagi berpihak kepada seluruh warganegara.

Akan tetapi sistem yang dikondisikan hanya untuk segelintir pihak yang sanggup membayar. Mulai dari membayar calo untuk mendapatkan kamar hingga biaya perawatan ketika pasien pulang.

Kemudian stigma kita makin mengerucut tatkala mendengar kabar-kabar mengenaskan tentang kerja buruk profesi dokter. “Dokter menjadi biang kesalahan dalam sistem kesehatan di negeri ini”, mungkin kalimat senada ini yang tertancap di benak kita.

Tapi pernahkah kita mencoba kritis sekaligus imparsial dalam hal ini? Tentu ada sebab mengapa sebagian dokter melakukan praktek seperti ini bukan?!

Filosofi Pendidikan Dokter Berbeda Dengan Pendidikan Lain

Saya pernah berdiskusi dengan seorang dokter spesialis yang sekaligus guru saya, beliau berujar bahwa filosofi pendidikan dokter berbeda dengan profesi lain seperti pengacara, akuntan atau politisi.

“Filosofi pendidikan dokter itu seperti pendidikan antara kyai dan santri”, katanya. Kapan pun akan selalu seiring sejalan untuk memperbaiki umat. Berbeda dengan pendidikan lain. “Kalau hanya sekedar dipandang sebagai barter ilmu, kenapa juga mesti repot-repot mendidik dokter?! Toh jika lulus akan menjadi saingan kok”, tambah beliau.

Sejak awal adanya pendidikan dokter dalam peradaban manusia, pendidikan yang satu ini memang tidak diarahkan menjadi jurusan profit oriented. Namun lebih menitik beratkan pada kemanusiaan

Jika memang bertujuan mencari untung maka menurut hemat sayar orang paling kaya tentu saja Hippocrates dan anak turunnya. Karena Hippocrates lah selebritis dalam dunia kedokteran. Mulai dari awal hingga menjadi seorang dokter, nama Hippocrates tak akan bisa dilepasakan. Bayangkan setiap kali namanya dicatut maka si pencatut harus membayar sekian sen untuk royalti.

Namun sebagaimana budaya yang terus mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke masa, pendidikan untuk menjadi seorang dokter pun mengalami perubahan. Institusi pendidikan yang terbentuk mengharuskan bukan hanya kedokteran yang menjadi satu mata pendidikan. Percampuraran dan subordinasi menjadikan bidang ini kadang tidak terasa taste-nya sebagai motordalam bidang kemanusiaan. Terlebih lagi di Indonesia dimana pendidikan tinggi milik pemerintah sebagai tulang punggung utama pembentukan tenaga dokter akhirnya akibat kebijakan menteri pendidikan-yang tidak mempunyai latar belakang seorang pendidik-menjadi sebuah Badan Hukum Milik Negara. Eksesnya langsung terasa. Biaya pendidikan sepenuhnya dibebankan kepada universitas dan universitas akirnya membebankan kepada mahasiswa. Biaya pendidikan pun melonjak.

Para mafioso itu…

Seringkali bahkan mungkin sudah menjadi stigma di masyarakat bahwa dokter identik dengan kekayaan, celengan semar berjalan, sehingga jika berani menjadi dokter tentu backing finansial nya adalah besar. Di satu sisi mungkin benar mengingat lama waktu belajar dan banyaknya literatur yang harus dibaca untuk menjadi seorang dokter. Namun akan berbeda 180 derajat manakala mahasiswa kedokteran adalah kalangan berada secara keseluruhan. Ada juga mahasiswa yang berasal ari keluarga yang tidak mampu.

Kalau hanya sekedar dipandang sebagai barter ilmu, kenapa juga mesti repot-repot mendidik dokter?! Toh jika lulus akan menjadi saingan kok

Hal ini lah yang seringkali terlewat dari pandangan masyarakat dan para petinggi di lembaga pendidikan. Menggebyah uyah, menggeneralisir segalanya seakan semua adalah orang beada di negeri ini dengan menerapkan cost pendidikan yang begitu mahal.

Baiklah, mungkin untuk menjadi dokter cost yang keluar dianggap sebagai investasi. Akan tetapi bagaimana jika paradigma berpikir seperti ini terus berlanjut hingga lulus?? Sebagaimana hukum dagang, segala investasi yang keluar harus kembali secepatnya ditambah laba dandengan cara paling mudah. Bukankah ini semua merupakan konsekuensi dari penerapan hukum dagang dalam dunia pendidikan dokter?

Secepatnya berarti dengan mengenakan tarif yang besar meski mengharuskan pemiskinan pasien, laba yang bermakna segala dana yang keluar untuk menjadi seorang dokter harus kembali dengan keuntungan dan cara paling mudah yang menimbukan malkompetensi karena harus mengejar break even poin.

Begitulah kira-kira gambaran saat ini ketika pendidikan dokter di negeri ini yang disubordinasi oleh hukum-hukum pasar. Para petinggi yang menggariskan kebijakan pembentukan seorang dokter di negeri ini tidak mengeri tentang filosofi pendidikan dokter. Penyamarataan dengan profesi lain yang sejak awal adalah menggariskan adanya keuntungan, profit margin yang jelas.

Jadi saya tidak akan menyalahkan sekiranya ada dokter yang mengenakan tarif yang lumayan mahal. Meski saya juga tidak bisa mengatakan bahwa hal itu seratus persen benar. Mereka juga merupakan produk budaya yang berkembang di masyarakat. Tatkala budaya di masyarakat memandang segalanya dari sudut pandang hukum pasar maka tentu saja sedikit banyak hal itu juga akan berpengaruh pada profesi dokter.

Namun yang seharusnya disalahkan adalah ketidakmengertian atau lebih parah ketidakmautahuan para pengambil dan penentu kebijakan dalam dunia pendidikan medis yang saat ini cenderung diserobot oleh oknum-oknum yang tidak mengerti filosofi pendidikan dokter sejak awal. Mereka ini lah yang seharusnya disalahakan.

“Jika yang mengajar dokter adalah pedagang maka ia akan menjadi dokter yang bedagang…jika yang mendidik dokter adalah pengacara maka ia akan terbentuk menjadi dokter yang suka berperkara…begitu juga jika ia dokter yang dididik oleh politisi maka ia akan lahir menjadi seorang dokter yang pintar bersilat lidah”

Sumberfoto:gettyimages.com