Dendam Rindu Indonesia-Amerika

Gegap gempita menghiasi berbagi media yang memberitakan seputar rencana kedatangan Presiden Amerika, Barrack Barry Obama ke Indonesia di bulan Maret ini.

Mulai dari seputar masa kecil Obama yang pernah bersekolah di SD Menteng dan SD Asisi Jakarta hingga makanan favorit Sang Presiden, bakso, nasi goreng dan rambutan. Bahkan masalah kolesterol Obama yang naik pun menjadi suatu hal yang penting sehingga topik pemberitaan media.

Sang presiden Amerika pertama ini memang pernah mengecap beberapa tahun di Jakarta ketika kecil. Sebuah hal yang seakan menjadi penanda di antara sekian banyak simpul penanda adanya ikatan batin Indonesia-Amerika. Hubungan yang pernah mengalami pasang surut, naik turun. Seperti lagu dari BBB, Putus Nyambung. Hubungan yang diwarnai banyak romantisme sekaligus kepentingan di antara dua bangsa yang berasal dari kultur dan pola pikir yang berbeda.

Semasa perang kemerdekaan tentu kita tidak bisa melupakan peran Sang Paman Sam. Kita ingat konferensi tiga negara antara Belanda yang diwakili Belgia, Indonesia yang diwakili Australia dan Belgia serta Australia yang menunjuk Amerika sebagai mediator. Betapa peran tersebut akhirnya mendorong pengakuan internasional yang lebih besar terhadap Indonesia yang masih berusia seumur jagung.

Konflik dengan Belanda dalam perebutan Irian Barat pun tak lepas dari campur tangan Sang Negara Adidaya. Meski akhirnya dari konflik inilah sebuah era hungungan yang dingin dengan Washington. Arah kebijakan Indonesia yang condong ke kiri tak lepas dari kekecewaan pemerintah pada Washington yang ingkar janji dalam pemberian bantuan senjata semasa konflik Irian Barat sehingga harus meminta bantuan Uni Soviet merupakan pemicu dari mendinginnya hubungan Jakarta-Washington.

Kebijakan Jakarta yang condong dengan poros Hanoi-Peking-Moskow membuat Amerika makin gerah. Usaha kudeta terhadap pemerintahan di Jakarta pun dilancarkan dengan memberikan sokongan kepada pemberontak PRRI/Permesta. Namun usaha ini gagal total dan makin membekukan hubungan Jakarta-Washington.

Akan tetapi kebekuan ini berbalik 180 derajat pasca naiknya Orde Baru di panggung politik Indonesia. Hubungan itu begitu mesra meski kadang menjadi guyonan bahwa Indonesia hanya jadi kacung Amerika di pentas Internasional. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, menurut kemana saja perintah sang majikan.

Dan kini bola panas itu berada di tangan Barry. Tergantung bagaimana ia mengelolanya…

Kini seiring perkembangan reformasi, nampaknya Indonesia mulai sedikit berani dengan Sang Paman. Keberanian dalam berbeda pendapat soal Irak, lingkungan mungkin menjadi contoh awal keberanian Sang Garuda terhadap hegemoni Amerika di dunia internasional yang menjadi satu-satunya negara adidaya pasca runtuhnya Soviet. Kepentingan yang sama, mutual interest, pun mengantarkan Indonesia untuk duduk dan berbicara sama tinggi di tingkat internasional dalam G-20.

Meski juga disadari, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga sekaligus negara muslim terbesar di dunia kadang kebijakan luar negeri Amerika begitu melukai perasaan sebagian anak-anak bangsa ini. Masalah standar ganda dalam penanganan konflik Israel-Palestina, masalah senjata di Irak hingga penanganan terorisme di Afghanistan masih merupakan duri untuk membentuk hubungan yang lebih hangat.

Seperti kita tahu, alasan penanganan konflik di Timur Tengah yang secara kasat mata pilih kasih dipertontonkan Amerika menjadi bahan bakar bagi para teroris untuk terus saja menebar maut.

Dan kini bola panas itu berada di tangan Barry. Tergantung bagaimana ia mengelolanya, apakah di tangannya bola panas itu akan mendingin atau malah membara tergantung bagaimana ia menyikapi segala konflik yang telah ditinggalkan para pendahulunya. Beban dan tanggung jawab besar di pundak Barry yang lahir dari keluarga dan besar di budaya yang heterogen. Semua berharap dengan latar belakangnya yang begitu plural, ia sanggup membuat keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak.

Mungkin itulah dendam rindu bangsa ini yang sekaligus mewakili dendam rindu seluruh umat yang jujur tidak bisa memungkiri betapa pun dendamnya terhadap Paman Sam kerinduan untuk sekedar minum minuman ringan atau kopi atau bermain dengan gadget Made In USA selalu ada.

Dendam rindu yang sekarang mengarah pada Obama. Terakhir saya, pribadi, mengucapkan selamat datang, selamat pulang kampung pada Cak Barry. “Eling cak…peno dienteni wong sak dunyo. Indonesia dudu Jakarta tok, Cak. Nek nang Indonesia, ojok lali sambang liyane. Nek nang Suroboyo, peno tak jak mampir nang warung kopi soko negoro peno…Jetarbuk”.