Keledai

Suatu kali teman saya pernah berkata, “Kamu tuh terlalu peduli sama orang. Altruistik. Rela membiarkan nyaris semua waktu untuk diberikan cuma-cuma kepada orang, bersimpati dengan alasan kemanusiaaan atau sekedar memanusiakan orang lain sebagaimana kamu berharap dimanusiakan juga dan akhirnya…hancur melebur dengan kawanan yang utopis yang nyatanya kawanan seperti itu tidak pernah ada”.

Dan tiap kali mendengaar berondongan kalimat itu kening saya akan berkerut lantas tertawa. Sesaat otak saya bertanya, mengapa kening saya berkerut dan saya mesti menertawai kalimat itu meski sejurus kemudian saya balik bertanya pada diri saya sendiri, mengapa juga mesti tidak berkerut dan tidak menertawainya?.

Syahdan, suatu hari ada seorang pedagang dan anak laki-lakinya yang tengah berjalan melewati gurun pasir menuju sebuah pasar yang terletak di suatu kota dengan ditemani oleh seekor keledai. Tiap kali berpapasan dengan orang, pak tua dan anaknya selalu menjadi bahan gunjingan. Akhirnya ada seorang yang berkata, “Pak Tua, betapa bodohnya engkau. Engkau memiliki keledai namun tidak engkau manfaatkan dan malah berjalan kaki. Sungguh bodoh engkau!”.

Pak Tua itu pun akhirnya kekeliruaanya. Ia berkata kepada anaknya,”Nak, engkau mendengar apa yang orang perbincangkan tentang keledai kita. Kamu naiklah ke punggungnya dan biarkan ayah yang berjalan di depan dan menuntun keledai kita”.

Maka anak laki-laki itu pun naik mengendarai si keledai sedangkan ayahnya menuntun di depan.

Tak berapa lama, ayah, anak dan keledai ini kembali berpapasan dengan orang. Akan tetapi, gunjingan bukannya hilang malah makin bertambah banyak.

Akhirnya, pak tua bertanya kepada rombongan yang berpapasan dengannya. Orang itu menjawab,”Apakah kamu tidak mengajari anakmu sopan santun hingga ia yang lebih muda yang duduk santai mengendarai kuda sedangkan ayahnya berjalan di depan memegang tali kekang?! Sungguh tak berbudi yang demikian”.

Pak Tua itu pun kembali berkata kepada anaknya, “Nak, kamu telah mendengar ucapan orang tentang apa yang kita perbuat. Sebenarnya aku lebih suka jika engkau yang menaiki keledai. Bagaimana pendapatmu?”.

Anak muda itu menggenggam tangan ayahnya seraya berkata, “Ayah, biarlah aku saja yang berjalan di depan. Betul kata orang. Tidak berbudi bila seorang anak bersenang-senang sedangkan orang tuanya kesusahan”.

Kemudian, ayah, anak dan keledai melanjutkan perjalanan.Kali ini sang ayah yang menaiki keledai dan sang anak yang berjalan di depan menuntun tali kekang.

Di kejauhan, lolongan anjing gurun menemani bayang kedua orang tadi yang berlalu menuju pasar. Mereka tak peduli pada lolongan anjing lagi…mereka hanya berharap segera sampai pasar, beristirahat nanti malam dan membuka lapak di esok pagi

Sesaat berselang, mereka bertiga bertemu lagi dengan rombongan yang tengah lewat. Kali ini bukan sekedar bisik-bisik melainkan pembicaraan yang begitu keras hingga terdengar oleh sang ayah yang tengah naik di punggung keledai.

“Sungguh ayah yang tak mempunyai kasih sayang membiarkan anaknya berjalan di pasir panas sedang dia sendiri enak-enakan di punggung keledai”.

Begitu mendengar perkataan ini, sang ayah kemudian memanggil anaknya. “Nak, kamu mendengar apa yang orang katakan?! Aku tidak ingin dikatakan sebagai ayah yang tidak mempunyai kasih sayang terhadap anaknya”, ujarnya. “Naiklah ke punggung keledai ini dan kita berboncengan menaikinya”, lanjutnya.

Ayah dan anak ini melanjutkan perjalanan dengan keduanya membonceng di punggung keledai. Akhirnya mereka sampai di gerbang kota tujuan. Begitu sampai di gerbang, kali ini bukan hanya bisik-bisik atapun pembicaraan melainkan suara yang lantang bertanya, “Pak Tua, apakah kau sudah begitu kejam hingga tega menaiki seekor keledai yang kecil berdua dengan anakmu?! Lihatlah, betapa malangnya nasib si keledai bermajikan engkau”.

Sang ayah pun langsung menghentikan keledai. Ia langsung bertanya kepada anaknya yang tengah membonceng di belakangnya. “Nak, apa pendapatmu dengan perkataan orang tadi?! Aku tidak ingin dikatakan sebagai manusia yang kejam dengan menyiksa keledai ini”, tegas sang ayah.

Akhirnya ayah dan anak tadi memutuskan untuk mengikat keempat kaki keledai menjadi dua pasang dan memikulnya dengan tongkat menuju pasar.

Sepanjang jalan menuju pasar, ayah dan anak tadi menjadi bahan tertawaan dan cemoohan dari setiap orang yang mereka temui. “Lihatlah, betapa dungu dan bodohnya kedua orang ini. Mereka mempunyai keledai yang harusnya menjadi budak mereka namun kini keledai lah yang menjadi tuan mereka. Sungguh bodoh!”.

Namun kali ini keduanya menutup rapat-rapat telinga mereka dari gunjingan dan cemoohan orang. Keduanya hanya mengikuti kata hati yang mereka anggap benar dan layak untuk diikuti.

Di kejauhan, lolongan anjing gurun menemani bayang kedua orang tadi yang berlalu menuju pasar. Mereka tak peduli pada lolongan anjing lagi…mereka hanya berharap segera sampai pasar, beristirahat nanti malam dan membuka lapak di esok pagi.

Dan cursor ini juga mulai berhenti menjadi altruistik…

Sumberfoto:gettyimages.com

2 thoughts on “Keledai

  1. Yeo

    Hahaha… Latar belakang orang beda-beda, cara pandang juga beda-beda. Memuaskan yang satu bisa berarti mengecewakan yang lain. Mending memuaskan hati sendiri.

    Eh, kok malah nuturi… Hehehe…

Komentar ditutup.