Pahlawan

Sewaktu saya masih di bangku SMU, ada sebuah saat dimana saya teringat betul dengan hal itu. Saat dimana dijelaskan mengenai definisi pahlawan. Pahlawan, menurut definisi adalah seseorang yang berbuat kebaikan yang kemudian ia tidak berharap akan adanya balas budi.

Dari definisi di atas setidaknya ada dua hal yang dapat ditarik, pertama, adalah adanya aktivitas yang terkait dengan kebaikan, kemaslahatan, baik itu dalam skala yang kecil seperti keluarga maupun dalam skup yang lebih luas adalah masyarakat bahkan hingga mencapai kebaikan global jika mampu. Yang kedua, dalam menjalankan aktivitas kebaikan itu ia tidak mengharapkan adanya balas budi baik itu berupa pujian atau dalam bentuk materi. Itu yang saya pelajari semasa saya masih di bangku sekolah.

Namun ketika saya lepas sekolah dan bertemu serta berinteraksi dengan lebih banyak komunitas dan golongan sosial, saya mendapati kenyataan yang bertolak belakang dengan definisi yang pernah diajarkan kepada saya. Terdistorsi serta mengalami degradasi pemaknaan.

Pahlawan lebih sering diidentikkan dengan sosok yang melakukan hal-hal nekat, cenderung dianggap gila serta menyimpang dari kebiasaan yang umum di masyarakat.

Acap kali makna konotatif yang lebih berkesan di mata publik meski menurut ukuran norma dan etika, justru pemaknaan yang baru tadi lah yang menyimpang dari makna semula.

tak jarang kita temui kepala keluarga yang begitu dielu-elukan di tengah keluarganya, dianggap sebagai pahlawan keluarga tetapi ternyata apa yan ia berikan kepada keluarga adalah hasil korupsi, hasil dari menilep uang kantor

Para buruh Indonesia yang bekerja di mancanegara seringkali kita sebut sebagai pahlawan devisa. Kita melakukan peng-eufemisme-an terhadap sebutan buruh tadi sedangkan kita sadar sesadar-sadarnya bagaimana perlakuan yang mereka terima ketika berada di luar negeri yang seringkali membuat kita merasa merinding dan saat mereka kembali di tanah air mereka bukannya disambut seperti istilah yang disandangkan kepada mereka. Akan tetapi mereka hanya menjadi sapi perahan, diperas sana-sini oleh berbagai oknum mulai dari menjejakkan kaki di bandara hingga sampai di tempat rumah jika memang masih bisa pulang atau bahkan lebih buruk malah menjadi korban kejahatan sebelum membawa hasil memeras keringat sekian tahun di negeri orang. Mereka lah pahlawan!.

Guru, sebuah profesi yang sejak kecil telah kita beri penghormatan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Dan karenanya, sebutan yang kita berikan, maka kita pun seakan merasa tidak perlu memberikan penghargaan kepada mereka. Memberikan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Bagaimanapun juga mereka tetapalah manusia yang  berkeluarga, membutuhkan makan setiap harinya tapi kesejahteraan yang harusnya mereka terima tidak sebanding dengan sebutan pahlawan yang mereka pikul. Mereka juga pahlawan!.

Tapi sebaliknya, tak jarang kita temui kepala keluarga yang begitu dielu-elukan di tengah keluarganya, dianggap sebagai pahlawan keluarga tetapi ternyata apa yan ia  berikan kepada keluarga adalah hasil korupsi, hasil dari menilep uang kantor. Dan manakala ia dimejahijaukan, keluarga tetap tidak mengakui bahwa orang yang ia anggap sebagai superhero adalah tikus-tikus yang menggerayangi kas kantor. Apakah yang demikian layak mendapat gelar pahlawan?

Bahkan lebih memprihatinkan, sebuah kasus dimana seorang menteri yang diduga melakukan korupsi. Ia merasa tidak bersalah bahkan merasa apa yang dilakukannya adalah perbuatan kepahlawanan hanya karena ia menggelapkan uang proyek untuk disumbangkan kepada yayasan panti asuhan yang ia kelola.

Mungkin memang benar adagium yang menyatakan perkembangan moral berbanding terbalik dengan perkembangan teknologi. Dan makna pahlawan pun nampaknya harus tergerus perkembangan teknologi yang entah sampai kapan mencapai batas.

Sumberfoto: fotolia.com