Peniup Peluit bag 1

Syahdan di suatu negeri antah berantah, ada seorang hulubalang yang terkenal jahat. Jika seharusnya hulubalang melindungi dan melayani masyarakat namun ia malah memeras rakyatnya. Setiap kali masyarakat memiliki masalah dan melaporkan masalahnya kepada Sang Hulubalang maka serta merta Si Hulubalang akan meminta sejumlah uang dari rakyat yang mengadu padanya.

Bukan itu saja, diam-diam ia juga menarik pajak gelap selain pajak resmi yang ditetapkan oleh Baginda Raja. Banyak rakyat yang tidak menyukainya. Namun jabatan kepala hulubalang yang mana adalah penguasa tertinggi dalam suatu kasus apakah kasus itu diteruskan ke mahkamah atau tidak membuat rakyat yang membencinya hanya bisa diam dan menggunjingkannya di dalam kamar. Tidak lebih.

Sang Hulubalang ini mempunyai kebiasaan yang aneh. Ia begitu menyukai meniup peluit. Kemana saja ia pergi peluit pasti tergantung di lehernya. Entah apa maksudnya dengan peluit itu. Tapi siapapun yang pernah berurusan dengannya pasti tahu bahwa ketika ia meniup peluitnya berarti Sang Hulubalang mencium adanya masalah dan berarti pula yang terkena masalah harus  menyetorkan uang padanya. Semakin sering dan semakin keras ia meniup maka semakin banyak pula uang yang mesti disetor kepada hulubalang ini.

Suatu hari, Hulubalang atau lebih tepatnya Kepala Bagian Hulubalang Kriminal ini tersandung masalah. Masalah yang ia buat sendiri dan sekarang ia yang tersandung juga. Ia tengah menangani kasus hilangnya padi di sebuah lumbung. Saat ia tengah menyidik tersangka perncuri padi tadi, ia mencium adanya masalah. Kontan saja ia meniup peluitnya keras-keras. Berkali kali ia meniup peluitnya. Begitu sering dan kerasnya tiupan peluit itu hingga si tersangka tadi akhirnya sadar bahwa Sang Hulubalang minta uang kira-kira sebesar 10M. Si Tersangka hanya cemberut. Tapi akhirnya dengan terpaksa ia memberikan sebanyak yang diminta oleh hulubalang tadi.

Si Kepala Bagian Hulubalang Kriminal tertawa puas saat menerima uang yang ia minta. Ia mengira kasus yang ia tangani telah selesai. Namun ternyata ia salah.

Di kantor sebelah, saat dimana Kepala Bagian Hulubalang Kriminal tadi meniup peluit berkali-kali, ada pihak-pihak yang merasa terganggu. Sebenarnya mereka sudah tahu tentang sepak terjang hulubalang yang tiap kali meniup peluit berarti ia sedang menangani sebuah kasus dan meminta uang kepada pelakunya. Akan tetapi baru kali ini mereka mendengar tiupan peluit yang begitu kerasnya seakan tiupan sangkakala yang menggonjang-ganjingkan jagad untuk segera menemui kiamat.

Ia mengira kasus yang ia tangani telah selesai. Namun ternyata ia salah.

Akhirnya kantor ini yang dikenal dengan Kantor Pengelolaan Kasus atau dikenal KoPoK menyelidiki Si Hulubalang. Benar lah ternyata Hulubalang telah meminta dan menerima 10M dalam kasus pencurian padi di sebuah lumbung kepada si pencurinya yang tak lain adalah pemilik lumbung itu sendiri. Maka menyebarlah berita ini. Hebohlah seluruh negeri. Mulai dari ujung barat sampai timur semua menggunjingkan kasus Kepala Bagian Hulubalang Kriminal ini.

Dituduh menerima apalagi meminta uang sebanyak itu, Hulubalang tidak terima. Ia bersumpah demi Tuhan, demi keluarganya serta sederet demi yang lain ia lontarkan saat ia diperiksa oleh anggota Dhewan Perwalian Rakyat Kampungan yang anggotanya adalah wali-wali kampung yang dipilih setelah membeli suara rakyat kampung. Begitu kampungan. Mirip kelakuan anak Taman Kampung.

Begitu selesai pemeriksaan, Kepala Bagian Hulubalang Kriminal ini menggerutu. “Sialan…berani benar orang-orang KoPoK itu memeriksa saya. Apa saya dianggap tidak punya kekuasaaan?!”, batinnya meradang.

Esoknya dua orang yang menangani kasus Hulubalang tadi ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji besi. Maka pagi itu, gegerlah seantero negeri. Bukan hanya rakyat jelata. Bahkan Baginda Raja Sok Bisa Ye yang makin hari makin tambun akhirnya ikut angkat bicara.

Maalamnya Ia pun membuat pidato yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru negeri. “Saudara-saudara sebangsa, setanah dan seair, tadi pagi ada sebuah berita menarik yaitu ditangkap dan dijebloskannya dua petinggi KoPoK ke dalam penjara. Sebenarnya saya mendukung apa yang dilakukan oleh Hulubalang saya dikarenakan beliau adalah bawahan saya. Karena dengan demikian semua adalah sama di depan hukum menjadi benar adanya. Namun demi stabilitas nasional, demi keberlangsungan pembangunan yang mana sejak tadi pagi lumpuh akibat demo besar-besar menuntun pembebasan dua petinggi KoPoK oleh masyarakat yang tergabung dalam Cinta Ini Cinta KoPoK, Aliansi Aku Ingin KoPoKen dan masih banyak elemen masyarakat yang lain maka saya meminta dibebaskannya dua petinggi KoPoK sekarang juga”. Pidato pun selesai.

Begitu selesai, Sang Baginda pun berbisik kepada Mantri Hukum-nya, “Copot Hulubalang goblok itu!”.

Bersambung

Sumber foto: wtcc.sa.gov.au

One thought on “Peniup Peluit bag 1

Komentar ditutup.