Musa Globally, Wisanggeni Locally

Sejarah selalu menumbuhkan sosok idola, tokoh yang kemudian diikuti dan dijadikan panutan. Meski kemudian seiring perkembangan zaman tokoh tadi terkadang surut lantas tenggelam atau makin parah dengan menghilang ke balik tirai sejarah. Namun pula juga tokoh yang kemudian bertahan, survive, dan menghidupi banyak orang dengan terus memberikan ide-ide segar sekedar untuk berubah dan jika sanggup untuk kemudian si pengikut ini bangkit dan tampil di dalam laok sejarah yang ia bangun untuk dirinya sendiri.

Seperti Mandela dari Afrika Selatan yang sebentar lagi akan menyelenggarakan sebuah even terakbar dalam jagad olahraga. Bagaimana ia merubah bangsanya yang penuh dengan rasa curiga antar sesama anak bangsanya, penuh dengan diskriminasi rasial bahkan hingga dirinya pun juga menjadi korban dari diskriminasi. Mandela yang rambutnya kriwil-kriwil, Mandela yang rasanya karena kulitnya tidak akan mungkin menjadi model iklan lotion pemutih kulit, Mandela yang dipenjara karena sistem yang tidak memihaknya tapi dengan kebesaran jiwanya saat ia bebas ia bukannya membalas dendam kepada pihak yang memenjarakannya namun malah memaafkan dan mempersatukan bangsa Afrika Selatan dan menghapuskan politik apartheid. Sebuah semangat yang lantas ditiru oleh banyak pihak, menginspirasi banyak manusia untuk merubah sistem yang mengekang di negaranya masing-masing tanpa harus melalui kekerasan. Namun ternyata ia hanya mengikuti apa kata Gandhi.

Demikian juga dengan Gandhi yang terkenal dengan Ahimsa-nya yang sanggup mengilhami sebuah Anak Benua untuk merdeka tanpa harus dengan kekerasan. Bagaimana Anak Benua yang kala itu terkotak-kotak dalam struktur budaya, tersegrasi dalam kasta-kasta, terkungkung dalam dogma agama yang bermacam-macam mampu meraih kemerdekaanya dari Inggris hanya oleh seorang pengacara yang –nuwun sewubotak dan kerempeng bernama Mohandas Karamchand Gandhi. Namun ternyata Gandhi pun mengambil inspirasi dari Tolstoy. Berjuang tanpa kekerasan, mencerahkan bangsanya merupakan sebuah persamaan dalam diri keduanya.

Dalam tiga agama besar langit, ada seorang Nabi yang kisahnya selalu menjadi salah satu pembahasan sentral. Ia begitu eksentrik dan kontroversial jika boleh dibilang. Musa dikatakan eksentrik dan kontroversial karena hanya ia lah satu-satunya yang meminta untuk melihat Tuhan ketika masih hidup di dunia, satu-satunya pula yang Tuhan ajak bicara dan satu-satunya pula yang berani bertanya atau lebih tepatnya menggugat Adam sebagai bapak moyang manusia dan menyalahkannya mengapa anak turunnya harus hidup di dunia hanya karena kesalahan Adam memakan buah terlarang.

Berpakaian sederhana, berjiwa egaliter yang disimbolkan dengan ketidakamauannya untuk berkromo inggil ketika berbicara dengan seseorang yang lebih tua menjadikannya ikon dari sebuah generasi yang menghendaki adanya perubahan dan persamaan hak.

Dilahirkan oleh ibunya untuk kemudian dihanyutkan di Nil hanya karena takut akan dibunuh oleh penguasa saat itu, Musa lantas membawa perubahan secara fundamental tentang kebebasan manusia untuk hidup bebas tanpa keterpasungan di bawah kekuasan penguasa lalim dengan membawa bangsa Israil –sesuai perintah Tuhan- menuju tanah yang dijanjikan untuk menjalani hidup baru dengan struktur dan pranata sosial yang sama sekali tanpa penindasan dan diskriminasi sektarian.

Musa juga yang kemudian terkenal dengan mengajarkan persamaan di depan hukum dengan melemparkan batu yang pertama kali sebagai bentuk hukuman rajam kepada pelaku perzinahan yang notabene adalah kawan dekatnya sendiri.

Mungkin jika ditilik satu persatu maka ide-ide yang dibawa Musa tentang reformasi sosial, reformasi hukum tidak akan habis dikupas. Dan Musa pun menjadi simbol yang mewakili manusia secara global yang menginginkan perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Menjadi sebuah ikon reformer sosial budaya disamping religi yang ia bawa.

Jika secara global kita mendapati sosok Musa yang penuh ide-ide perubahan maka secara lokal kita mendapati sosok Wisanggeni di dunia pewayangan. Sosok ini asli made in Indonesia tanpa ada campur tangan dari negara asal kisah Mahabarata ataupun Ramayana.

Wisanggeni yang bearayahkan Arjuna dan bidadari Dewi Dresanala yang merupakan putri Batara Brahma. Digambarkan ia sejak kecil selalu dikuyo-kuyo bahkan oleh eyangnya sendiri yang notabene dewa di kahyangan. Dibuang oleh eyangnya ke Kawah Candradimuka tidak serta merta mematikan ceritanya. Trah geni yang mengalir di darahnya ternyata hanya menambah efek dahsyat kesaktiannya.

Berpakaian sederhana, berjiwa egaliter yang disimbolkan dengan ketidakamauannya untuk berkromo inggil ketika berbicara dengan seseorang yang lebih tua menjadikannya ikon dari sebuah generasi yangmenghendaki adanya perubahan dan persamaan hak.

Ketika ia remaja ia mendatangi Arjuna untuk minta diakui sebagai anak yang tentu saja akibat ketidaktahuan sang ayah lantas permintaan itu ditolak. Perang tanding terjadi. Seluruh Pandawa takluk mengakui kesaktian Wisanggeni. Bahkan dewa-dewa pun akhirnya pun mengakui kesaktiannya. Akhir cerita ia diakui sebagai anak dan menjadi pelayan Hyang Wenang, yang hanya kepadanya Wisanggeni berkromo inggil.

Dari sini kita tahu bahwa sebenarnya kita tidak kalah dengan simbol, dengan idola lokal untuk sebuah perubahan. Musa globally Wisanggeni locally.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s