Bijak Dan Pajak

Saya masih ingat betul ketika saya kecil iklan pajak yang selalu mengetengahkan “Orang bijak taat pajak”. Entah mengapa pihak pajak menggunakan pilihan kata ini. Sengaja karena faktor homonim “jak” di akhir kedua kata tersebut. Atau memang sengaja ada faktor lain untuk menarik para pembayar pajak agar “ikut” dalam kasta orang bijak.

Namun minggu ini kata bijak itu diuji setelah Komjen Susno Duadji meniup priwitan yang akhirnya menabuh genderang kasus pengemplangan pajak oleh pegawai pajak sendiri. Bayangkan pegawai pajak sendiri.

Sekarang coba pikirkan jika anda menyisihkan sebagian gaji lantas anda membayarkan kepada pemerintah atas dasar anda bersemangat, anda mencintai, anda mempunyai semangat nasionalisme yang membuncah dalam dada dan berharap dengan sekian persen dari pendapatan anda yang anda dapat dengan menggos-menggos itu bisa membangun sekelas jembatan Suramadu. Anda bangga, anda bisa berkata kepada anak anda seperti iklan pihak pajak bahwa anda merasa memiliki jembatan Suramadu meski jika dikalkulasi pajak yang anda bayar tidak bisa untuk membeli semen meski satu sak. Baiklah itu bagus, itu membangun bangsa.

Namun apa lacur. Uang anda ternyata tidak masuk ke kas negara melainkan masuk kantong Abang Gayus Tambunan. Kemudian ditilep dan dibawa kabur ke Negeri Singa. Apa yang ada dalam benak anda?

Ternyata benar, bijak dan pajak berhubungan

Anda marah?! Eits..tunggu dulu. Anda sudah bayar pajak itu berarti anda sudah masuk kasta orang bijak. Orang bijak tidak boleh marah. Marah, mengikuti emosi bukan domain orang bijak.

Anda geregetan seperti lagu Sherina?! Buat apa juga…

Oarang bijak di negeri ini memang paling gampang dikibuli. Orang yang jika ditelikung hanya bisa bilang “Mau gimana lagi?!” adalah objek yang paling disukai oleh dajjal-dajjal di kampung ini.

Anda-anda, wahai para bijak di negeri ini, anda lah pahlawan sebenarnya di negeri ini. Anda lah “the real” bapak dan ibu pembangunan di negara yang carut marut ini. Anda dikempongi, duid anda dikemplangi, anda dibejuki tapi inilah negeri para bedebah.

Saya hanya berpesan, jangan berhenti jadi orang bijak. Karena kebijakan yang anda tumbuhkan dengan menyetor sekian rupiah sanggup menjaga sebuah jantung anak kurang gizi untuk terus hidup, republik ini berhutang pada panjenengan semua, berhutang pada kemurahan anda untuk memberi pendidikan gratis pada anak-anak yang bermimpin merubah desanya di belahan timur nusantara.

Jangan mogok untuk jadi bijak meski kebijakan anda dikempongi dan kebijaksanaan itu sendiri dikemplangi para dajjal-dajjal yang saat ini berkumpul di Sing A Pore.

“Ternyata benar, bijak dan pajak berhubungan”

Arief Rachman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s