Biofuel: Pisau Bedah Bermata Dua

Global warming seperti namanya sekarang telah menjadi sebuah isu global. Setelah KTT lingkungan di Bali yang disusul dengan pertemuan serupa di Kopenhagen yang berusaha menurunkan tingkat emisi di dunia makin mendorong isu ini menjadi sebuah isu krusial bukan hanya sekedar label di sebuah mug melainkan menjadi sebuah core dari kebijakan suatu negara. Perdagangan karbon menjadi tindak lanjut dari kedua pertemuan tadi.

Selama ini bahan bakar fosil yang dituding sebagai penyumbang terbesar bagi pemanasan global mulai dikurangi penggunaannya. Hal ini tentu saja berimplikasi pada usaha untuk menemukan bahan bakar lain sebagai pengganti. Mulai jarak hingga penggunaan alkohol sebagai bahan campuran dalam bahan bakar fosil berusaha digunakan. Tetapi ternyata minyak sawit menjadi alternatif yang paling menguntungkan jika dibanding kandidat lain sebagai campuran. Namun dari sinilah bencana ini terjadi.

bahan bakar nabati yang berasal dari sawit akhirnya harus membuat pembukaan hutan untuk lahan sawit sebagai prasyarat utama

Sebagaimana yang terjadi di Kalimantan Barat, di Ketapang, hampir separuh luas wilayahnya berubah menjadi perkebunan sawit, demikian temuan dari Walhi. Dalam tiga tahun terjadi penambahan luas lahan kelapa sawit dari 742 ribu hektar menjadi 1,4 juta hektar.

Ke depan permintaan Crude Palm Oil sebagai hasil dari kelapa sawit akan terus meningkat. Indonesia sebagai pemasok utama selain Malaysia berjanji memenuhi kebutuhan CPO dunia sebesar 40%. Dan Eropa sebagai salah satu pasar utama CPO, telah menargetkan penggunaan bahan bakar nabati sebesar 20% pada tahun 2020 yang ini tentu saja akan semakin meningkatkan demand dari CPO dikarenakan sekitar 60% sumber bahan bakar nabati tadi harus dipasok dari luar Eropa.

Ironis sekali. Bahan bakar nabati yang berasal dari sawit akhirnya harus membuat pembukaan hutan untuk lahan sawit sebagai prasyarat utama. Hal ini tentu saja pada gilirannya hanya akan menambah panjang lingkaran setan pemanasan global. Hutan yang harusnya dilindngi sebagai paru-paru dunia malah menjadi ajang untuk mengeruk keuntungan lewat meningkatnya permintaan akan kebutuhan CPO sebagai campuran biofuel.

Di akhir, akankah kebijakan untuk mengonversi bahan bakar fosil ini malah mengorbankan hutan yang seharusnya dilindungi?! Entahlah…

Arief Rachman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s