Republik Banci ‘Jireh Weteng Lesu’

Jika, seandainya, misalnya negeri, nusantara ini diruwat kemudian dijenangabangke karena begitu banyank bencana dan kesialan yang terjadi. Bencana yang kesemuanya, pada pokok dan ujungnya hanya akan menunjuk hidung-hidung manusia yang nangkring di atas tanah, air dan pepohonan negeri nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini. Kesialan yang turun dari langi dan menyembul dari bumi akibat kepongahan para pembuat aturan yang seakan mewakili Yang Di Langit kemudian dilaksanakan oleh institusi yang –lagi-lagi- seakan dirinya Institusi Langit sehingga berani-berani melanggar aturan yang dibuat Yang Di Langit Yang Sebenarnya. Menginjak-injak, meremes-meremes sampai jadi kucel aturan itu dan memasukkannya  dengan  slam dunk ke tempat sampah.

Mari kita lihat satu-satu aspek-aspek sosiokultural yang membuat republik ini mempunyai nama. Sebelum kita berkenduri merumuskan nama yang baru, nama yang leih tepat. Karena seperti orang jaman dulu bilang mungkin jika anak kecil sakit bisa jadi disebabkan beratnya nama yang dipikul sehingga perlu diganti. Ga kuat derajad, istilahnya.

Pertama, bangsa ini adalah bangsa yang latah, gumunan, dan sukanya menelan mentah-mentah apa yang menarik tanpa berpikir panjang. Meski yang diuntal adalah isinya cap tikus yang bermerek teh terkenal yang sekali antem anda pasti  celeng-celeng. Atau mungkin yang diuntal adalah entitas berwarna merah di piring anda yang tanpa pikir panjang, anda bikin amblas itu seporsi, yang ternyata isinya oseng-oseng mercon. Maka bersiaplah perut anda untuk mengalami sakit perut yang lumayan untuk seorang amatiran sakit perut.

Dan karena latah, gumunan, dan berbuat tanpa pikir panjang itulah mengapa penjajah begitu betah untuk ngendon berlama-lama di negeri ini meski dalam wadag yang lain. Bayangkan mulai entuk penjajahan dengan tentara, kemudian para tentara itu tersingkir. Apa lantas mereka berhenti berusaha untuk menguasai negeri anda ini?! Tidak, Demi Tuhan!!.

Mereka datang kembali dengan kedok perang dingin. Menawarkan ideologi. Dan karena gumunan dan berbuat tanpa pikir panjang itulah bangsa ini pernah hidup dalam ketiak Moskow dan Beijing.

Kemudian berganti penjajahan ekonomi dan lagi kebudayaan dan lagi teknologi dan lagi budaya dan lagi pemikiran dan lagi…begitulah apesnya.

dan karena latah, gumunan, dan berbuat tanpa pikir panjang itulah mengapa penjajah begitu betah untuk ngendon berlama-lama di negeri ini meski dalam wadag yang lain

Dan karena pola-pola perilaku seperti latah, gumunan, tanpa berpikir panjang menguntal apa saja yang ada di depannya merupakan bentuk dari entitas ke-bancian, maka untuk kata pertama, saya ingin memberikan award untuk kata pertama berupa ‘banci’.

Kedua, bangsa ini seharusnya bangga menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berperilaku seperti bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang layak untuk menyandang kehormatan besar.

Dalam pewayang bangsa besar disimbolkan dengan simbol ksatria. Ksatria selalu saja hidupnya susah, penuh laku, full dengan tirakat untuk mencapai titik puncak dalam sejarah. Laku yang diaktualisasikan salah satunya dalam bentuk ‘mesu diri’. Weteng lesu, melekan, tirakatan jika boleh dicontohkan.

Namun ternyata bangsa ini tidak lebih berani dari bangs rambut brintik Afrika Selatan. Bisa dibayangkan baru berapa tahun Afrika Selatan lepas dari keterpurukan aparthei yang tidak nguwongke manusia asli Afrika. Namun kini, mereka telah bangkit dan bahkan sanggup menjadi tuan rumah piala dunia yang rencananya akan dihelat Juni nanti.

Bandingkan dengan negeri saya dan anda. Baru mau ikut undian saja sudah dicoret. Beuh…

Sekarang andaikan benar suatu saat jika negri ini diruwat dan bergati nama terus kemudian diadakan kenduri untuk penggantian nama, saya dengan senang hati akan mengusulkan nama “Republik Banci ‘Jireh Weteng Lesu’”. Dan sesudahnya bisa dievaluasi setiap 20 tahun apakah nama tersebut masih sesuai ataukah sudah tidak cocok.

Sumber foto:smh.com.au

Beranda       Daftar Isi

2 thoughts on “Republik Banci ‘Jireh Weteng Lesu’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s