Apatisme

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan klip salah satu finalis American Idol, Chris Daughtry. Klip yang bejudul ‘What About Now’ tersebut menggambarkan kepedulian sebagian orang atau LSM dalam menolong sesama atau melakukan advokasi terhadap baik isu-isu lingkungan maupun isu hak asasi manusia.

Namun bukan peran LSM yang saya ingin tulis melainkan betapa mereka mempunya kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Betapa kepedulian mereka begitu besar terhadap sesama bahkan dengan meninggalkan kesenangan privat yang sevetulnya telah mereka dapat.

Ada sesorang yang saya tahu sewaktu menjadi bintang tamu di acara Oprah Show. Salah seorang yang bekerja di Microsoft dan bergaji 1 juta dollar namun akhirnya malah mengundurkan diri dan kemudian aktif di Nepal untuk mendirikan sekolah dan perpustakaan bagi anak-anak Nepal.

Begitulah sebuah atensi atau peduli dalam bahasa lain. Bagaimana kepedulian kepada sesama, kepada lingkungan akhirnya mampu menyelamatkan sebuah peradaban. Dan mungkin bukan hanya sebuah peradaban tetapi akhirnya menyelamatkan seluruh umat manusia.

Dalam sejarah, tertulis bagaimana kisah bangsa Israil. Anak cucu Daud ini pernah mempunyai peran sentral dalam sejarah manusia. Menjadi bangsa yang Tuhan selamatkan dari kungkungan bangsa Mesir, dibawa ke tanah yang dijanjikan, menjadi bangsa besar di bawah Sulaiman. Namun ironi, bangsa ini akhirnya runtuh dan turun pamor serta dari derajatnya sebagai titik sentral dalam perkembangan sejarah hanya karena mereka apatis, sebagai lawan dari atensi.

Apatisme itu terjadi bukan hanya terhadap orang yang papa diantara mereka namun apatisme itu berkembang lebih jauh dengan apatisme terhadap kejahatan, ketamakan, korupsi yang terjadi di sekitar mereka. Hanya berpikir ‘pokoknya saya sendiri selamat’ dan tidak peduli dengan tetangganya yang menerobos hukum-hukum Yahweh menjadi dasar dalam kebudayaan bangsa Israil saat itu.

Bahkan yang lebih parah lagi, para pemuka agama yang harusnya sanggup berperan sebagai kontrol sosial terhadap eksekutif ternyata juga ikut dalam apatisme massal. Entah karena berpikiran ‘bukan urusan saya’ atau karena ikut dalam acara sogok-menyogok alias korupsi berjamaah.

Apatisme Modern

Kini, penyakit apatisme layaknya seperti sebuah kanker kronis yang diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi infeksi yang menular ke lingkungan. Jadi bisa anda bayangkan betapa penyakit apatisme ini seperti sebuah wabah menggerogoti peradaban bukan hanya sebuah bangsa akan tetapi peradaban manusia secara keseluruhan.

Dalam isu lingkungan misalnya. Seringkali kita melihat sebuah lingkungan yang tidak peduli manakala tetangganya membuang sampah ke sungai, membuang sampah ke jalan ketika mengendarai mobil dan sebagainya.

Atau seperti dalam birokrasi. Manakala atasan jelas-jelas melakukan korupsi uang rakyat, bawahan hanya diam saja. Bukan karena tidak mengetahui melainkan mengalami sindrom apatisme akibat ketakutan akan mengalami pemecatan manakala harus melaporkan ke penegak hukum atau sekedar memberikan nasihat kepada sang bos.

Kini, penyakit apatisme layaknya seperti sebuah kanker kronis yang diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi infeksi yang menular ke lingkungan

Bahkan yang lebih parah manakala sang anak mengetahui bahwa orang tuanya menjadi pesakitan akibat melakukan kejahatan di kantor, sang anak mati-matian membela orang tuanya dengan dalih berbakti kepada orang tua. Sedang di lain pihak ia menutup mata pada akibat pada publik yang disebabkan perilaku si orang tua. Benar-benar sebuah apatisme yang mewabah.

Menumbuhkan Atensi

Sebagai lawan dari apatis, mungkin sekarang sudah saatnya bagi kita untuk memulai memberikan atensi yang lebih besar keluar diri kita. Memberikan atensi pada masalah lingkungan, atensi pada masalah sosial budaya di sekitar kita seperti pada masalah korupsi dengan mulai menerapkan anti korupsi pada aktivitas yang kita lakukan sehari-hari dan lain-lain.

Mungkin atensi itu akan nampak kecil pada awalnya. Namun jika semua mengawali dari diri sendiri, memulainya saat ini, saya yakin wabah apatisme di negeri ini akan sedikit demi sedikit akan menghilang dan berganti dengan wabah atensi.

Sebuah wabah yang menumbuhkan kebersamaan untuk memperbaiki bangsa ini. Sebuah sindrom yang pada gilirannya akan memperbaiki kondisi negeri ini yang telah sekian lama mengalami carut marut akibat ditelantarkan para pemimpinnya.

Foto:gettyimages

Beranda  Daftar Isi

One thought on “Apatisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s