Beragama Itu Wajib, Beriman?! Tunggu Dulu…

Setiap kita jika ditanya apa agama yang kita anut, pasti dengan mudah pertanyaan tesebut akan terjawab. Dan jika didesak pun dengan mudahnya akan mengeluarkan KTP untuk membuktikan bahwa benar-benar beragama. Karena memang di negara ini setiap rakyatnya harus memeluk salah satu agama yang dilegalkan oleh negara.

Meski tidak secara resmi sebagai sebuah negara yang berlandaskan pada salah satu agama namun dasar negara yang kemudian ditegaskan oleh konstitusi mengharuskan setiap orang untuk beragama atau setidaknya kolom agama dalam KTP tidak boleh kosong atau terisi dengan agama yang tidak ‘dikenal’ oleh negara.

Kita pun mafhum bahwasanya tiap kali ada pengangkatan baik itu dari tingkat lurah, ambtenar atau pegawai pemerintah sampai dengan presiden manakala diangkat akan disumpah terlebih dahulu dengan nama Tuhan bahwasanya ia termasuk golongan orang yang beriman dan bertakwa. Sebuah parameter yang dalam logika normal harusnya berkorelasi positif dengan status keagamaan seseorang.

Jika beragama merupakan sebuah identitas formil dalam konteks judisial maka keimananan merupakan sebuah aktualisasi dari sebuah identitas tadi. Dalam arti bahwa jika seseorang mengaku beragama maka sudah seharusnya ia juga beriman yang ia aktualisasikan, diejawantahkan dalam kehidupan. Baik itu dalam pikiran, ucapan maupun tindakan baik ia sebagai makhluk individu maupun manakala ia mempunyai peran publik baik sebagai pemimpin ataupun sekedar sebagai oknum yang bertugas mengurusi urusan publik.

Namun kita juga sadar bahwa seringkali di republik ini, sebuah korelasi yang harusnya positif namun seringkali korelasi itu berbalik arah. Seorang yang mengaku beriman atau minimal kolom agama dalam KTP tidak kosong namun jika secara faktual ternyata perilaku, pikiran, ucapan serta perbuatan begitu jauh dari kesan sebagai individu yang beriman.

Dan jika kesan itu pun ada maka kesan itu hanya berupa sebuah simbol, sebuah pencitraan yang bagus di depan namun ternyata begitu busuk jika dilihat dari belakang. Persis sebuah cermin ukuran setengah badan. Begitu bagus pusar ke atas namun bobrok jika dilihat ke bawah. Belum lagi jika dinampakkan sisi yang tidak menghadap cermin.

Para pejabat entah dalam birokrasi, legislasi, yudikasi maupun dalam organisasi sosial kemasyarakatan yang bahkan membidangi agama pun tak luput dari wabah ini.

Jamak kita membaca di media banyak para pejabat di segala lini kemasyarakatan yang menunaikan ibadah ini, menjalankan perintah agama itu namun kenyataan di lapangan menunjukkan ibadah serta ‘ketaatan’ yang dilakukan tidak memperbaiki perilaku melainkan ‘sekedar’ menaikkan status sosial di mata publik. Seolah-olah jika telah melakukan sembahyang, ibadah tertentu maka status keimanan seseorang akan mendapat rapor biru.

Yang lebih parah lagi, sebuah organisasi keagamaan yang seharusnya mampu memberi teladan kepada masyarakat bagaimana seharusnya nalah ditegarai melakukan praktek politik uang dalam pemilihan ketua umumnya. Sehingga harus mengalami penolakan di pengurus di bawahnya.

Sungguh ironis. Sebuah negara yang dasar negara menegaskan dengan jelas bahwa meski bukan negara agama tapi peri kehidupan berbangsa dan bernegara seluruh warga negaranya harus berlandaskan agama bahkan diwajibkan untuk beragama tapi pada praktiknya nilai-nilai agama hanya sekedar superfisial. Tidak serta merta menjadikan pemeluknya menjadi sosok yang beriman.

Karena tidak ada satupun agama pun yang mengharuskan beriman memerintahkan penganutnya untuk melakukan kecurangan. Namun mengapa keculasan politik dan kecurangan ekonomi tidak juga hilang dari negeri ini?

Sumber foto:diocesephoenix

Beranda     Daftar Isi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s