Membayar Pajak Dengan Zakat

Pernahkah anda berpikir sejenak dalam hidup anda, merenung, kontemplasi dan akhirnya berujung pada sebuah pencerahan mengapa negara ini seakan terjun bebas ke dalam sebuah krisis yang tak berujung?! Krisis dalam hal ini bukan hanya sekedar krisis tentang bagaimana cara mendapatkan isi perut melainkan berbagai tumpukan krisis yang ada.

Mulai krisis hukum yang ditandai dengan suburnya mafia kasus di lembaga yang seharusnya menegakkan hukum, krisis politik yang dimanifestasikan dalam arena pencak silat yang diperagakan wakil rakyat dalam gedung dewan, krisis budaya yang muncul dengan maraknya budaya barat yang diadopsi secara mentah ke dalam sendi kehidupan bangsa dan di ujung nun jauh kelip-kelip di sana, krisis moral, yang ‘ku yakin sampai di sana’ kata RI 1.

Mungkin jika dalam kesibukan anda yang 24 jam sehari itu anda menyempatkan berpikir tentang kondisi negeri ini mungkin akan terlintas dalam benak anda mengapa negara ini terbenam dalam lumpur krisis yang tak berujung laiknya lumpur lapindo yang sekarang makin tidak jelas kapan penyelesaiannya.

Darimanakah asal semua krisis tadi dibiayai? Pasti semua setuju jika jawabnya adalah uang negara. Dan nyaris keseluruhan pendapatan negara dibiayai oleh pajak. Dan saya yakin semua juga akan setuju jika ditanya lebih ikhlas mana antara membayar zakat dan pajak, maka yang menjawab zakat akan lebih besar.

Setiap orang yang membayar pajak pasti tidak akan rela gajinya dipotong sekian persen, jika membeli barang ia harus menambah sekian rupiah lebih mahal serta setiap tahun rumah dan tanah yang pemerintah tidak pernah ikut cawe-cawe membangun harus disajeni berupa pajak bumi dan bangunan. Semua orang yang membayar pasti ngedumel atau setidaknya hatinya merasa mangkel jika petugas pajak datang memeriksa rumahnya dan berusaha ‘mencari’ objek yang kira-kira bisa menambah pundi-pundi pajak.

Belum lagi masalah etika bahwasanya tatkala ketika pembayar pajak telah membayar pajak, ia akan menuntut balasan dari pemerintah atas pajak yang telah ia bayar. Mental seperti ini lah yang seringkali mengemuka tatkala ada hal dalam pembangunan yang tidak sesuai dengan keinginan pembayar pajak.

akan lebih baik jika semangat dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan zakat atau yang semisalnya

Seakan apa yang telah diberikan kepada bangsa ini harus dibayar dan dikembalikan lebih besar oleh bangsa ini. Pajak telah menjadi alat barter antara rakyat dengan bangsa. Bukan sebagai sumbangsih warga negara melainkan sekedar alat transakasi untuk mengeruk keuntungan pribadi yang lebih besar.

Menzakati Pajak

Jika dilihat dengan kacamata keberkahan maka dengan jelas bahwasanya pajak yang notabene dibayar dengan tidak ikhlas tadi tentu tidak akan membawa berkah andaikata digunakan untuk membangun negara ini. Baik itu pembangunan secara fisik maupun pembangunan mental warga negaranya. Yang diujungnya akan menimbulkan krisis.

Akan lebih baik jika semangat dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan zakat atau yang semisalnya. Dalam artian dalam membayar pajak, para pembayar pajak mengedepeankan bahwa dalam harta yang ia peroleh terdapat hak orang lain yang menjadi kewajiban baginya untuk dikeluarkan. Pajak atau sedekah yang semacam ini lebih mencerminkan keikhlasan dari pembayarnya.

Selain dari aspek keikhlasan, mental barter antara rakyat sebagai pembayar pajak dengan pemerintah yang diamanati untuk mengelola keungan dan sumber daya alam diharapkan akan hilang. Sehingga yang muncul bukan lagi rasa tidak rela untuk mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan publik namun yang lebih jauh krisis seperti krisis hukum yang ditandai dengan banyak bermunculannya kasus koruspi tidak akan terjadi. Karena yang terjadi selama ini korupsi adalah terhadap uang pajak dan bukannya dana yang dikumpulkan dari zakat atau yang sejenisnya.

Sumber foto: majalahteras.com

Beranda     Daftar Isi

One thought on “Membayar Pajak Dengan Zakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s