Demokrat Tanpa SBY, Mewujudkan Mimpi Siang Hari

Dalam kongres II di Bandung telah memilih Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD) mengalahkan dua kandidat lainnya dalam dua putaran. Andi Malarangeng (AM) sebagai salah satu calon yang diperkirakan akan keluar sebagai pemenang ternyata tidak lolos putaran pertama pemilihan dengan perolehan suara jauh dibawah Anas dan Marzuki Ali (MA).

Memang selama ini kedua calon tersebut tidak banyak diunggulkan oleh berbagai pengamat mengingat dalam kubu AM terdapat putra bungsu SBY, Edhi Baskoro atau Ibas, yang suka atau tidak suka dilihat dari kacamata publik merupaka representasi Ketua Dewan Pembina PD, Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun kemudian kenyataan berkata lain. Calon yang dibela Ibas kalah bahkan dalam putaran pertama. Kemudian dalam putaran kedua, skenario untuk mengalihkan suara para pendukung Andi kepada Marzuki pun akhirnya tidak juga diikuti oleh sebagian besar pendukung Andi. Bahkan suara itu pun sebagian besar beralih ke Anas. Walhasil Anas pun menang besar.

Kemenangan Anas, Senjakala SBY?!

Seperti sudah diketahui sejak lama ketika Ibas hadir dalam deklarasi Andi Malarangeng, banyak bisik-bisik di publik yang menyebut adanya dukungan tidak resmi kepada AM melalui dukungan Ibas sebagai tim sukses Andi. Meski tidak secara eksplisit namun patron politik ketua dewan pembna yang kuat di PD tak pelak menimbulkan adanya kasak-kusuk tentag tafsir pilihan politik SBY dalam pemilihan ketua umum PD periode 2010-2015.

Namun realita politik berkata lain. Kenyataannya, calon yag selama ini “didukung” Cikeas akhirya harus kalah yang bahkan kalah dalam putaran pertama. Skenario kedua yang berusaha mengalihkan suara ke calon ketua umum yag lain dalam hal ini Marzuki Ali pun akhirnya kandas juga.

Hal ini nampaknya merupakan sebuah fenomena baru dalam PD mengingat betapa kuatnya pengaruh sang ketua dewan pembina. Akan tetapi hal ini juga meruapakan sebuah hal yag menarik dalam peta politik PD mengingat figur SBY yang pasca 2014, suka atau tidak, akan minim daya jual dalam pemilu. SBY yang karena faktor konstitusi tidak akan bisa dipilih kembali kemungkinan membuat akar rumput PD harus berpikir lebih cermat dan melakukan kalkulasi politik untuk membuat PD tetap bertahan dalam pemilu mendatang.

Apakah ini merupakan sebuah senjakala SBY dan pengaruhnya di PD? Bisa jadi. Mengingat sulit dilepaskannya figur sang dewan pembina dari berdirinya PD yang sejak awal memang bertujuan untuk mengawal pencalonan SBY sebagai capres yang tentu saja melalui politik pencitraan. Sehingga tatkala sang anak yang notabene mendukung salah satu calon ketua umum maka akan sangat wajar publik menjadi bertanya-tanya tentang patron politik SBY dan trah keturunannya dalam peta politik PD.

Kemenangan Anas atas calon yang didukung trah Cikeas seakan menjadi pintu pendobrak yang diharapkan mampu menjadikan PD bukan sebagai partai keluarga seperti yag terjadi sebagian parpol di negeri ini. Dimana pucuk pimpinan didominasi oleh figur sentral dalam partai. Kemenangan Anas seakan ingin membentuk opini dalam masyarakat bahwasanya PD sedemokratis namanya dengan tidak terpaku pada figur sentral dan pencitraan melainkan bertumpu pada kaderisasi serta program-program yang ditawarkan.

PD Tanpa SBY, (Bukan) Mimpi Siang Hari

Pemiilu 2014 yang jelas-jelas tidak akan dapat diikuti SBY tampakya menjadi sebuah titik tolak bagi PD demokrat untuk menjadi sebuah partai yang “lebih” modern dalam arti lebih bertumpu pada kaderisasi dan program daripada sekedar bertumpu pada seorang figur sentral SBY.

Dalam rangka itu, dengan kepemimpinan Anas mendatang diharapkan mampu memberi arah baru partai berlambang bintang tiga ini. Kepemimpinan serta pengalaaman Anas benar-benar diuji apakah dia sanggup membawa PD keluar dari bayang-bayang sang dewan pembina dan melahirkan sebuah karakter politik yang lebih agresif dibanding SBY yang selama ini dikenal sebagai sosok yang santun dan terkesan berhati-hati jika tidak boleh dikatakan lambat dalam mengambil keputusan.

Jelas ini seperti sebuah usaha mewujudkan mimpi di siang hari. Tidak mustahil untuk terwujud meski juga tidak mudah untuk menjadikannya sebuah realita dalam kancah percaturan politik nasional.

PD yang semula didirikan untuk mengantar sosok SBY menjadi pucuk pimpinan di negeri ini yag kemudian dalam lima tahun menjelma menjadi sebuah partai mayoritas yang memenangi sebuauh pemilu satu putaran harus benar-benar lepas dari sosok yag diusungnya dan menjadi sebuah partai yag berideologi dalam artian bukan lagi sebuah partai yang hanya hadir sebagai partai yang mengusung simbol-simbol melainkan sebuah menjelma menjadi sebuah partai yang bervisi, berorientasi program.

Akhirnya hanya waktu yang akhirnya bisa memutuskan, ke depan akankah Anas mampu membuktikan kepada publik dengan mengubah paradigma PD dari sekedar partai figur, partai pencitraan menjadi sebuah partai yang modern, bertumpu pada kaderisasi dan berorientasi pada visi dan program ataukah justru hanya malah akan meneruskan figur politik ketua dewan pembina yang mungkin dalam pemilu mendatag tidak akan bernilai jual. Kita tunggu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s