Profesi Dokter, Sebuah Kartu As Dalam Perjudian Pemilu

Apa jadinya jika sebuah demokrasi mengorbankan atau dalam istilah yang lebih halus memanfaatkan sebuah profesi atau sebuah institusi yang seharusnya tidak memihak karena terikat dengan sumpah profesinya? Kemungkinan minimal yang terjadi adalah dua. Yang pertama ia akan memenangkan perjudian tadi karena ia memegang kartu truf, kartu as, sebuah kartu yang diharapkan oleh semua pihak. Dan yang kedua, ia akan kalah karena ia disalahkan oleh berbagai pihak karena memakai kartu as tadi di dalam perjudian yang seharusnya ia tidak boleh memakainya.

Itulah yang terjadi dalam pesta pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah di Indonesia. Ada beberapa calon gubernur, calon bupati dan walikota yang berasal dari profesi dokter. Atau jika bukan dari kalangan medis, maka banyak calon yang menggunakan dokter dalam tim sukses atau sekedar sebagai vote getter.

Tidak salah jika dokter terjun ke dalam dunia politik. Karena memang pilihan untuk terjun ke dunia politik adalah hak asasi dan pilihan semua orang dan semua pihak harus menghormatinya.

Namun tatkala profesi yang harusnya tidak berafiliasi dengan politik memilih untuk terjun langsung maka akan ada sebuah pertanyaan besar dalam benak setiap orang, bagaimana tatkala lawan politiknya datang untuk sebuah pertolongan, apakah ia akan terpengaruh dengan syahwat politiknya? ataukah memilih bersikap netral dalam setiap kebijakan dalam diambil tanpa melihat latar belakang si pasien sesuai sumpah profesi kedokteran yang pernah ia ucapkan ketika dilantik sebagai dokter?

Dokter, Manusia Berprofesi

Sejak peradaban manusia lahir maka saat itulah profesi medis ikut lahir. Karena kesehatan merupakan bagian integral dari seluruh kebutuhan manusia. Mulai dari peradaban kuno seperti hingga masa kini, tidak ada aspek sejarah lepas dari peran dokter. Penguasa, saudagar bahkan hingga rakyat jelata pasti suatu saat dalam hidupnya bersentuhan dengan dokter.

Akhirnya seiring perkembangan zaman, profesi ini pun mempunyai privilege, privilege yang tidak dimiliki oleh profesi lain. Yang mana privilege-nya dapat mempengaruhi masyarakat atau dalam lingkup yang lebih kecil adalah pasien yang membutuhkan jasanya.

Sebagai profesi yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain maka seperti kata pepatah ada udang ada semut, profesi ini pun dilirik untuk menarik massa.

Terutama saat kampanye, baik itu kampanye dalam pemilihan legislatif ataupun eksekutif, peran profesi dokter sangat diperhitungkan. Para politisi yang maju seakan tidak segan berusaha merangkul dokter untuk masuk dalam tim kampanyenya.

Atau bahkan yang lebih lagi, justru dokter sendiri yang maju dalam pemilihan. Dan berusaha menggunakan pengaruhnya untuk mempengaruhi massa agar memilihnya.

Seperti bisa kita lihat di beberapa daerah dimana dokter maju dalam pilkada. Sebagian menang namun banyak pula yang akhirnya menelan pil pahit kekalahan. Ada yang menonjolkan program saat kampanye, ada pula yang menonjolkan profesi jasa yang ia tekuni dengan semacam pengobatan gratis. Yang tentu saja pengobatan semacam ini patut dipertanyakan. Layakkah sebuah pelayanan yang harusnya berdasar pada kemanusiaan namun kemudian menjadi alat kampanye? Kemudian jika terpilih apakah kampanye yang ia jalankan akan terus dilanjutkan?

Akan tetapi, kebanyakan orang tidak sadar bahwa peran dokter sesungguhnya adalah seperti seorang wasit. Pihak yang tidak memihak pihak manapun kecuali kemanusiaan karena terikat dengan sumpah yang pernah diucapkannya sewaktu dilantik menjadi dokter.

Kembali Ke Sumpah Dokter

Mungkin sudah waktunya profesi dokter untuk merenungkan kembali makna dan hakikat sumpah dokter saat ia dilantik. Dan bukannya memilih untuk meninggalkannnya terjun ke dalam kancah perpolitikan yang rasanya semua orang mafhum bahwa politik identik dengan sesuatu yang kotor dan tanpa etika ketika harus mencapai tujuan.

Pilihan untuk terjun ke ranah politik praktis yang termanifestasikan dalam bentuk mengikuti pilkada memang merupakan hak asasi setiap manusia. Namun di atas hak tersebut bukankah masih ada etika, nilai moral yang harusnya lebih dijunjung tinggi dibandingkan syahwat kekuasaan yang pada gilirannya hanya akan mendikotomi masyarakat, pihak yang harusnya dilayani menjadi kelompok pro dan pihak lawan.

Dokter sebagai wasit lebih dituntut perannya dalam hal sosial kemasyarakatan jika dibandingkan dengan peran sebagai kepala daerah. Meski dengan alasan bahwa dengan kepala daerah mampu memberikan peranan yang lebih besar. Tapi tetap saja alasan tadi tidak cukup kuat untuk menjadi justifikasi dan meninggalkan peran dasar yang dibebankan di atas pundak seorang dokter untuk mengabdi pada kemanusiaan.

Kembali ke dasar, kembali ke sumpa dokter mungkin merupakan jawaban dari semua masalah di atas. Mungkin.

One thought on “Profesi Dokter, Sebuah Kartu As Dalam Perjudian Pemilu

  1. Ping balik: An Update On Effective Agen Bola Plans! | Up Grade Your Gambling Skills

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s