Blunder Diplomasi Pak Beye dan Kemenangan Kecil RMS

SBY dan Balkenende

Beberapa hari lalu, saya dikejutkan dengan sebuah berita di salah satu media  elektronik. Presiden Indonesia menjadi tergugat dalam kasus HAM serta diminta untuk ditangkap sewaktu mendarat di Belanda. Kasus ini mencuat dan menjadi bahan perbincangan di berbagai media.

Tuntutan ini diajukan oleh RMS, sebuah organisasi yang dianggap sebagai kelompok separatis oleh pemerintah RI, ke pengadilan Den Haag, Belanda. Yang menarik adalah momen kunjungan SBY ke Belanda sebagai jawaban dari undangan Ratu dan Perdana Menteri Belanda benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok ini untuk menunjukkan eksistensinya kepada dunia internasional dan Indonesia secara khusus. Meski di Belanda, kelompok ini bukanlah sebuah kelompok yang mempunyai pressure kuat untuk menekan kebijakan politik luar negeri pemerintah Belanda namun pengajuan SBY ke pengadilan yang nota bene hanyalah semacam pengadilan negeri di Indonesia membuat pemerintah kalang kabut.

Sampai-sampai kunjungan balasan SBY yang dimaksudkan untuk menerima pengakuan Belanda tentang kemerdekaan RI dibatalkan di deti-detik terakhir. Di dalam pidatonya di bandara, SBY menyatakan bahwa ia tidak takut dengan ancaman RMS  namun ia menghormati proses hukum di Belanda sehingga ia memutuskan untuk menunda lawatannya ke Belanda.

Kontan kasus ini menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kalangan pengamat serta politisi Senayan baik itu dari pendukung koalisi maupun pihak-pihak yang selama ini dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Banyak yang menilai langkah yang diambil SBY merupakan sebuah blunder yang ceroboh dalam politik luar negeri Indonesia. Sebagian menilai, hal ini terjadi akibat lemahnya sistem peringatan Kedutaan, Kemenlu maupun pihak intelejen dalam mengamati dan menganalisa kejadian yang ada.

Belanda sendiri jauh-jauh hari, meski tidak bisa mengintervensi pengadilan, sudah memberikan jaminan penuh keamanan serta kekebalan selama kunjungan SBY ke Belanda.

Namun jaminan tadi ternyata lagi-lag tidak membuat SBY merasa nyaman sehingga harus menunda keberangkatannya dalam waktu yang belum bisa ditentukan.

Memang selama ini SBY dianggap sebagai personal yang sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Namun apa yang terjadi membuat publik merasa kali ini SBY terlalu berhati-hati sehingga mengakibatkan blunder yang bagaimanapun seakan sedikit mencoreng hubungan bilateral Indonesia-Belanda.

Apalagi sebagian elit partai pendukung pemerintah ikut berkomentar bahwa Belanda telah membuat dosa sejarah kepada Indonesia dan sebaiknya tidak membuat dosa baru kepada bangsa ini. Tentu saja ide seperti ini merupakan ide konyol. Karena ide seperti ini nampaknya sudah tidak begitu laku di negeri Kincir Angin. Kebanyakan warganya merasa bahwa saat ini bukan lagi masa untuk saling menganeksasi dan melakukan kolonialisasi seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Lebih dari itu semua, nampaknya ini lebih merupakan kemenangan kecil dari RMS. Sebuah kelompok minoritas yang tidak mempunyai pressure politik kpada pemerintah namun sanggup membuat kepala negara lain menunda kunjungannya. Dan ini pula yang terjadi.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, akhirnya pihak pengadilan akhirnya menolak tuntutan dari kelompok yang menamaan dirinnya RMS. Tapi kelompok RMS tetap bergembira. Karena tujuan akhir bukanlah membawa Pak Beye ke pengadilan melainkan membuktikan kepada pemerintah bahwa mereka masih eksis.

Dan kali ini Pak Beye membuat blunder. 1-0 untuk RMS.

Beranda   Daftar Isi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s