Chaos, Jalan Lempang Menuju Negara Gagal

indonesia

Makin suramnya potret penegakan hukum dan makin menjadinyan jeratan gurita korupsi di negeri ini seakan membuktikan bahwa peran negara makin hilang.

Mulai dari kasus pencurian sandal di Makasar, kasus Nazarudin yang menyita banyak energi, kasus Century yang ditengarai melibatkan wakil presiden yang kala itu menjabat Gubernur BI hingga kasus pembangunan ruang Badan Anggaran DPR yang menelan hingga Rp. 20M bagaikan pisau tajam yang menohok kesabaran masyarakat.

Belum lagi insiden kekerasan dan pelanggaran HAM mulai dari kasus Ahmadiyah, kekerasan di Papua, kasus penembakan di Papua hingga kasus gereja Yasmin di Bogor yang notabene telah diputuskan oleh MA namun akhirnya mentok di meja walikota Bogor makin membuat membuat analisa bahwa negara ini sedang berjalan di jalan lempang menuju kehancuran menjadi makin nyata.

Dan pemerintah seakan tutup mata atas semua kejadian yang terjadi hampir tiap hari menghiasi media. Mulai dari meningkatnya kriminalitas yang ditandai dengan maraknya aksi perkosaan dalam angkot yang mau tidak mau mayoritas penggunanya adalah rakyat kecil.

Nyaris peran pemerintah tidak kentara di segala aspek kehidupan masyarakat. Yang muncul di televisi hanya acara – acara seremonial hingga saling debat antara politisi dan pejabat pemerintah. Dan rakyat sekali lagi, sekali lagi hanya bisa menahan kegeraman.

tanpa kita sadari sebuah kenyataan adanya ‘chaos’ tengah kita hadapi. Semua merasa berhak menjadi pengadil akibat hilangnya peran pengadil yang sesungguhnya.

Dalam sejarah, semua revolusi sosial dimulai dari tahap adanya chaos, sebuah akumulasi dari kegelisahan dan kegeraman masyarakat akibat terlalaikannya peran penguasa. Penguasa yang korup berlindung di balik tameng hukum hasil kongkalikong dengan penegak hukum dan wakil rakyat yang culas.

Ketika saat kegelisahan dan kegeraman makin menjadi menuju kulminasi, maka pintu – pintu revolusi sosial terbuka. Sebuah harga mahal yang berulang kali dialami oleh bangsa ini. Dan korban terbesar dari revolusi bukanlah penguasa tapi tetap saja rakyat kecil yang hidupnya tetap saja susah dari masa ke masa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s