Tawuran: Kemana Pendidikan Mengarah

image

Berapa hari ini, berita pendidikan diwarnai dengan kabar tawuran antar pelajar sekolah menengah. Tak tanggung – tangggung korban jiwa melayang sia – sia. bahkan, pelajar sekolah yang notabene dianggap sebagai sekolah favorit melakukan penyerangan terhadap sekolah di sekitarnya hingga menimbulkan korban jiwa.

Pertanyaan mendasar seputar pendidikan kembali menyeruak ke permukaan, adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apakah sistem pendidikan yang ada sekarang hanya mencetak dan melahirkan “preman – preman” berbalut kepintaran akademis semata?

Sejak lama, bahkan hingga menteri pendidikan berganti, departemen pendidikan berganti nama sekalipun, pertanyaan tadi masih menggelayut di benak setiap orang di negeri ini yang mencermati dan berharap dari pendidikan akan lahir generasi – generasi muda yang kelak akan memikul beban berat bangsa ini.

Mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana hingga ujian, seakan pendidikan selalu dibelit problematika yang kenal ujung pangkal.

Guru, sebagai garda terdepan pendidikan, dimana saat ini dituntut untuk melakukan sertifikasi, di beberapa daerah sempat menemui hambatan. Bahkan dari pihak pengajar sendiri.

Mungkin kita letih jika dibandingkan dengan Jepang, Korea atau Cina. Terlalu sering kita dibandingkan bagaimana Jepang yang terpuruk setelah PD II mampu bangkit kembali setelah bersusah payah membangun sistem pendidikannya. Begitu juga Korea Selatan. Pun, demikian juga Cina. Setelah sekian lama terkungkung dengan ideoligi komunisnya yang menutup diri dari perkembangan dunia luar, sekarang Cina mampu melejit dan sejajar dengan negara – negara lain yang telah lebih dulu maju di kawasan Asia.

Lalu, dimana posisi kita? Indeks pembangunan manusia kita yang masih tersungkur di papan bawah seakan menjadi cerminan, betapa pendidikan hanyalah sebuah sektor yang dipandang sebelah mata jika dibandingkan pembangunan infrastruktur yang langsung terlihat hasilnya.

Pendidikan bukanlah pembangunan sekejap yang langsung terasa hasilnya laksana pembangunan Candi Prambanan yang jadi hanya dalam semalam melainkan sebuah proses panjang yang menutut komitmen dari semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang amanat konstitusi, guru sebagai garis depan, serta tak kalah pentingnya, peran dari masyarakat dan orang tua dalam menyiapkan “bahan mentah” yang akan dicetak menjadi generasi muda yang berkualitas.

Disinilah peran semua pihak yang telibat sangat menentukan. Bukan hanya an sich pemerintah atau guru akan tetapi semua pihak berkepentingan dalam proses pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dari sebuah bangsa.

Jika proses tadi berjalan sendiri – sendiri, niscaya outcome yang terjadi akan pincang. Seperti yang terjadi, pemerintah seakan menyalahkan masyarakat yang dianggap turut dalam pembentukan budaya kekerasan. Di lain pihak, masyarakat menuntut pemerintah lebih ikut campur tanpa melihat betapa beban pemerintah sendiri sudah terlalu banyak.

Seandainya setiap pihak berjalan beriringan menuju visi yang digagas pendiri bangsa ini, niscaya korban tawuran pelajar yang terjadi akan berhenti disini.

 

Courtesy foto: http://metro.news.viva.co.id

One thought on “Tawuran: Kemana Pendidikan Mengarah

  1. indri4priyani

    Reblogged this on Cintai Ilmu Cintai Dunia and commented:
    Add your thoughts here… (optional)Tawuran: Kemana Pendidikan Mengarah
    28 Sep

    image

    Berapa hari ini, berita pendidikan diwarnai dengan kabar tawuran antar pelajar sekolah menengah. Tak tanggung – tangggung korban jiwa melayang sia – sia. bahkan, pelajar sekolah yang notabene dianggap sebagai sekolah favorit melakukan penyerangan terhadap sekolah di sekitarnya hingga menimbulkan korban jiwa.

    Pertanyaan mendasar seputar pendidikan kembali menyeruak ke permukaan, adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apakah sistem pendidikan yang ada sekarang hanya mencetak dan melahirkan “preman – preman” berbalut kepintaran akademis semata?

    Sejak lama, bahkan hingga menteri pendidikan berganti, departemen pendidikan berganti nama sekalipun, pertanyaan tadi masih menggelayut di benak setiap orang di negeri ini yang mencermati dan berharap dari pendidikan akan lahir generasi – generasi muda yang kelak akan memikul beban berat bangsa ini.

    Mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana hingga ujian, seakan pendidikan selalu dibelit problematika yang kenal ujung pangkal.

    Guru, sebagai garda terdepan pendidikan, dimana saat ini dituntut untuk melakukan sertifikasi, di beberapa daerah sempat menemui hambatan. Bahkan dari pihak pengajar sendiri.

    Mungkin kita letih jika dibandingkan dengan Jepang, Korea atau Cina. Terlalu sering kita dibandingkan bagaimana Jepang yang terpuruk setelah PD II mampu bangkit kembali setelah bersusah payah membangun sistem pendidikannya. Begitu juga Korea Selatan. Pun, demikian juga Cina. Setelah sekian lama terkungkung dengan ideoligi komunisnya yang menutup diri dari perkembangan dunia luar, sekarang Cina mampu melejit dan sejajar dengan negara – negara lain yang telah lebih dulu maju di kawasan Asia.

    Lalu, dimana posisi kita? Indeks pembangunan manusia kita yang masih tersungkur di papan bawah seakan menjadi cerminan, betapa pendidikan hanyalah sebuah sektor yang dipandang sebelah mata jika dibandingkan pembangunan infrastruktur yang langsung terlihat hasilnya.

    Pendidikan bukanlah pembangunan sekejap yang langsung terasa hasilnya laksana pembangunan Candi Prambanan yang jadi hanya dalam semalam melainkan sebuah proses panjang yang menutut komitmen dari semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang amanat konstitusi, guru sebagai garis depan, serta tak kalah pentingnya, peran dari masyarakat dan orang tua dalam menyiapkan “bahan mentah” yang akan dicetak menjadi generasi muda yang berkualitas.

    Disinilah peran semua pihak yang telibat sangat menentukan. Bukan hanya an sich pemerintah atau guru akan tetapi semua pihak berkepentingan dalam proses pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dari sebuah bangsa.

    Jika proses tadi berjalan sendiri – sendiri, niscaya outcome yang terjadi akan pincang. Seperti yang terjadi, pemerintah seakan menyalahkan masyarakat yang dianggap turut dalam pembentukan budaya kekerasan. Di lain pihak, masyarakat menuntut pemerintah lebih ikut campur tanpa melihat betapa beban pemerintah sendiri sudah terlalu banyak.

    Seandainya setiap pihak berjalan beriringan menuju visi yang digagas pendiri bangsa ini, niscaya korban tawuran pelajar yang terjadi akan berhenti disini.

    Courtesy foto: http://metro.news.viva.co.id

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s